JOMBANG – Pemkab Jombang melalui Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Jombang memberangkatkan satu keluarga transmigran asal Jombang menuju kawasan transmigrasi.
Lokasi transmigrasi yang dituju, berada di Desa Batu Ampar, Kecamatan Kedurang, Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu kemarin (21/11).
Program transmigrasi 2023 ini diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat.
”Kemarin saya survei sendiri ke sana. Di sana sudah ada listrik tenaga surya, pemerintah setempat menjanjikan listrik dua tahun mendatang," ungkap Kepala Dinas Tenaga Kerja Jombang Priadi.
Pemkab Jombang memberikan bekal berupa uang saku sebesar Rp 15 juta yang akan diserahkan secara tunai di tempat tujuan.
Selain itu juga dibantu peralatan pertanian senilai Rp 29 juta berupa satu unit kultivator, mesin pemotongan rumput, hand sprayer, waring, dan pagar anyaman untuk menghalau binatang agar tak merusak tanaman. ”Juga bibit sawit, kopi, dan kompor serta tabung Elpijinya.
Sementara dari pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan, lanjut Priadi, akan memberikan fasilitas berupa jadup (jatah hidup) untuk satu tahun.
Hal itu diwujudkan dalam bentuk beras, minyak, sabun, ikan-ikan kering, dan lain sebagainya.
Alat pertanian berupa cangkul, sabit dan lain-lain. Tempat tidur, alat masak, dan makan, dan lain sebagainya.
Tidak hanya itu, transmigran juga diberikan pekarangan seluas 1.000 meter persegi serta tanah lahan usaha satu seluas 9.000 meter persegi.
Priadi, meminta agar transmigran mampu mengelola lahan tersebut dengan baik.
Baca Juga: Disnaker Jombang Hadirkan Kemudahan Layanan di Bulaga
Caranya dengan menanam tanaman hotikultura yang bisa dikonsumsi sehari-hari juga dapat dijual pada lahan pekarangan.
"Sedangkan lahan usaha bisa ditanami dengan tanaman keras seperti kelapa sawit, durian, kopi, dan lain sebagainya,” imbuhnya.
Harapannya, tanaman hotikultura dapat dipanen satu tahun kemudian setelah jatah hidup dari pemerintah setempat telah selesai.
Sedangkan tanah lahan usaha bisa dipanen 3-4 tahun kemudian, sebagai tabungan.
”Kalau tanah lahan usaha satu ini bisa dikelola dengan baik, maka pemerintah akan menambahkan lagi tanah lahan usaha dua sebanyak 5 ribu meter persegi untuk dikelola,” jelasnya.
Priadi juga menjelaskan kondisi lingkungan sekitar. Rumah transmigran memang sedikit jauh dari rumah tetangga, tinggal di perbukitan, tanah terasering.
Namun, lokasinya memiliki fasilitas pendidikan, kesehatan, dan tempat perkumpulan yang cukup baik.
Jaraknya dengan jalan raya juga tidak terlalu jauh, hanya kurang lebih 2 kilometer, yang bisa ditempuh menggunakan motor.
”Kalau mobil kecil mungkin sulit, tapi kalau motor sudah bisa, ada fasilitas pendidikan juga ada, jadi anak-anak masih bisa tetap sekolah,” jelasnya.
Abdul Mujib, 47, dan Masruroh, 39, sudah mantap menjadi transmigran, meninggalkan tempat tinggal asalnya di Dusun Plosorejo, Desa Kebondalem, Kecamatan Bareng.
Mereka membawa kedua anaknya yang masih duduk di bangku SD. Niatnya untuk menjadi transmigran sudah muncul sejak dulu.
Setelah ada informasi melalui pemerintah desa, ia langsung mendaftarkan diri dengan harapan bisa meningkatkan kesejahteraan hidup keluarga.
”Terima kasih kepada Pemkab Jombang melalui dinas tenaga kerja yang telah mengadakan program transmigrasi ini, saya ingin mengubah hidup menjadi lebih mapan,” singkat Mujib. (wen/naz/riz)
Editor : Achmad RW