JOMBANG - Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan, Jombang, Petrus Harianto STh, menyampaikan renungan menarik.
Terutama tentang pentingnya tidak ragu menapaki jalan Tuhan.
’’Tetapi pelayannya itu berkata: ’’Bagaimanakah aku dapat menghidangkan ini di depan seratus orang?’’ Jawabnya: "Berikanlah kepada orang-orang itu, supaya mereka makan, sebab beginilah firman Tuhan: Orang akan makan, bahkan akan ada sisanya,’’ tuturnya mengutip 2 Raja-raja 4:43.
Ketika kelaparan sedang melanda seluruh negeri, tak terkecuali Israel. Seseorang dari Baal-Salisa membawa dua puluh roti jelai dan gandum baru kepada Elisa.
Nabi Elisa hatinya tergerak oleh belas kasihan kepada rombongan seratus orang nabi yang kelaparan.
Kemudian Nabi Elisa menyuruh pelayannya untuk membagi-bagikannya. Pelayan Elisa ragu dan mempertanyakan hal yang mustahil ini.
’’Bagaimana aku bisa menghidangkannya di depan seratus orang? Tidak mungkin mencukupi!’’ katanya.
Perkataan itu tidak memengaruhi keputusan Nabi Elisa. Elisa tidak ragu dan tetap konsisten berkata, ’’Berikanlah kepada orang-orang itu supaya mereka makan.
Sebab beginilah firman Tuhan: Orang akan makan, bahkan akan ada sisanya’’ (ayat 43).
Luar biasa, ketika pelayan Elisa menghidangkan roti itu kepada para nabi itu, mereka semua pun memakannya, dan benar-benar ada sisanya. Yang mustahil bagi manusia, tidak mustahil bagi Allah.
Ada kalanya dalam kehidupan ini Tuhan izinkan diri kita ada pada situasi yang penuh ketidakmungkinan.
Baca Juga: Renungan Minggu 164, Mengambil Langkah yang Tepat
Pada kondisi seperti itu seringkali kita melihat diri kita demikian kecil, lemah, dan terbatas.
Sehingga kenyataan itu membuat diri kita hanya melihat ketidakmungkinan saja. Hal itulah yang dipikirkan pelayan Elisa saat itu.
Pelayan itu berkata: "Tidak mungkin cukup!" Namun ketika ia bersedia berserah dan percaya kepada Tuhan dan firman-Nya, hari itu ia menyaksikan apa yang tidak mungkin itu menjadi mungkin.
Apa yang menurutnya tidak cukup, dibuat Tuhan menjadi lebih dari cukup.
Dalam situasi yang seakan tidak ada lagi jalan, dibutuhkan keberanian untuk berserah, percaya, dan taat agar kita dapat melihat Tuhan bekerja menyelesaikan semuanya.
Seorang anak Tuhan bersaksi beberapa bulan yang lalu tentang pertolongan Tuhan yang dialami.
Saat kondisi perdagangan sepi, tapi dia merasakan tetap ada pemeliharaan Tuhan. Bahkan lebih dari yang dibutuhkan.
Dia berkata: Kuncinya percaya, taat dan tetap setia dengan apa yang difirmankan Tuhan.
Sekalipun kondisi tidak memungkinkan, tapi keluarga ini tetap konsisten mengutamakan Tuhan.
Memberikan waktu untuk melayani dengan sungguh-sungguh, memberikan persembahan yang terbaik dan mengembalikan milik Tuhan.
Tuhan Yesus tidak pernah tinggalkan dan bahkan diberkati lebih dari cukup.
’’Tuhan ingin kita belajar berserah, taat dan memercayai-Nya, agar kita dapat melihat Tuhan bekerja dalam ketidakmampuan kita. Tuhan Yesus memberkati,’’ tegasnya. (jif/bin/riz)
Editor : Achmad RW