JOMBANG - Tradisi ruwatan sumber mata air yang diadakan masyarakat Kampung Adat Segunung, Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam tak lengkap tanpa makan bersama.
Karenanya, sebagai perekat jalinan kebersamaan dan kekompakan warga, salah satu yang ditunggu warga, yakni momen menyantap makanan jadul.
Salah satu yang makanan yang ditunggu, yakni nasi gulung.
Nasi ini seolah menjadi menu yang wajib ada saat kegiatan ruwatan sumber mata air.
Di masa silam, nasi gulung kerap digunakan sebagai bekal warga saat pergi ke ladang atau ke hutan untuk bekerja.
Selain menghadirkan rasa dan sensasi yang khas, proses pembuatan nasi gulung juga sangat sederhana dan mudah.
Saat nasi telah matang dan masih dalam kondisi panas, nasi itu itu kemudian segera diambil dan ditaruh pada lembaran daun pisang yang sudah disiapkan sebelumnya.
Selanjutnya permukaan nasi diratakan dan digulung serta diikat erat agar tidak cepat basi.
Nasi gulung paling pas dipadukan dengan aneka lalapan dan sambal.
Aroma khas harum, sedap, dan gurih terasa melekat saat mencicipi nasi ini karena bercampur aroma alami daun pisang.
Selain warga juga banyak membawa aneka makanan dari hasi kebunnya masing-masing untuk dinikmati bersama warga.
Baca Juga: Sejuk dan Segarnya Air Terjun Sekar Pudak Sari yang Masih Perawan di Pedalaman Wonosalam Jombang
Kepala Desa Carangwulung M. Arief mengatakan, pihaknya akan terus berupaya mendukung kegiatan pelestarian budaya serupa agar tidak hilang termakan zaman.
”Tradisi ruwatan sumber mata air merupakan upaya untuk menjaga tradisi turun-temurun peninggalan nenek moyang,’’ ujarnya.
Pihaknya mengapresiasi kerukunan dan kekompakan yang ditunjukkan masyarakat Kampung Adat Segunung dalam merawat tradisi ini.
”Tradisi dan budaya dari leluhur harus kita rawat dan kita lestarikan agar bisa kita wariskan kepada generasi selanjutnya,’’ tambahnya. (dwi/naz/riz)
Editor : Achmad RW