JOMBANG - Pengasuh PP Midanutta’lim Mayangan, Jogoroto, KH M Ali Imron (Gus Imron), menjelaskan pentingnya mencari ilmu.
Hal itu diungkapkannya saat ngaji usai salat Duha di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Kamis (2/11).
’’Orang yang wafat saat sedang mencari ilmu atau dalam perjalanan mencari ilmu, maka dicatat syahid,’’ tuturnya.
Mencari ilmu yang dimaksudnnya, adalah termasuk didalamnya ilmu tasawuf.
Tentang menyucikan jiwa, menjernihkan akhlak, serta membangun lahir dan batin untuk dapat memperoleh kebahagian abadi.
Gus Imron cerita, Imam Ghozali punya adik bernama Ahmad. Namun Ahmad ini tidak pernah mau salat makmum Imam Ghozali.
Suatu ketika, sang ibu menasihati agar Ahmad mau salat makmum Imam Ghozali. Ahmad pun melaksanakannya.
Namun ditengah salat, Ahmad justru memisahkan dari jamaah dan salat sendiri.
Usai salat, Imam Ghozali pun menanyakan alasannya. ’’Aku melihat kanda penuh darah,’’ jawab Ahmad.
Imam Ghozali termenung dan berkata; Memang dalam salat saya sedang berpikir tentang persoalan haid. Karena sedang menyusun buku bab haid dan belum selesai.
Baca Juga: Binrohtal 2.066, Musibah, Sabar dan Salat
Mengetahui kelebihan adiknya, Imam Ghozali lalu bertanya: Dari manakah engkau belajar ilmu seperti itu?
Ahmad menjawab: Aku belajar kepada Syekh Al Utaqy, seorang tukang jahit sandal-sandal bekas.
Al Ghozali lalu pergi kepadanya. Dia berkata kepada Syekh: Saya ingin belajar kepada Tuan.
Syekh itu berkata: Mungkin engkau tidak sanggup mengikuti perintah-perintahku.
Al Ghozali menjawab: Insya Allah, saya kuat.
Syekh berkata: Bersihkanlah lantai ini. Al Ghozali lalu hendak membersihkan dengan sapu.
Tetapi Syekh itu berkata: Bersihkanlah dengan tanganmu.
Al Ghozali menyapunya lantai dengan tangannya. Kemudian dia melihat kotoran yang banyak dan bermaksud menghindari kotoran itu.
Namun Syekh berkata: Bersihkan pula kotoran itu dengan tanganmu.
Al Ghozali lalu bersiap membersihkan dengan menyisingkan pakaiannya.
Melihat keadaan yang demikian itu, Syekh berkata: Nah, bersìhkan kotoran itu dengan pakaian seperti itu.
Al Ghozali menuruti perintah Syekh tersebut dengan hati yang rida dan ikhlas.
Baca Juga: Binrohtal 2.063, Pentingnya Selalu Bersyukur Kepada Allah
Tetapi begitu Al Ghazali akan memulai melaksanakan perintah Syekh, beliau langsung mencegahnya dan memerintahkan agar pulang.
Al Ghozali pulang, dan setibanya dirumah, beliau mendapat ilmu pengetahuan yang luar biasa.
Dan Allah SWT telah memberikan ilmu laduni atau ilmu kasyaf yang diperoleh dari ilmu tasawuf atau kebersihan hati.
Sejak itu, Al Ghozali menjadikan tasawuf sebagai jalan mengenal Allah yang tujuan akhirnya disebut makrifat.
Yakni mengenal Allah, dan mengenal alam semesta. Makrifat diperoleh melalui ilham.
Allah SWT memancarkan cahaya ke dalam kalbu seseorang agar ia mengenali hakikat Allah dan segala ciptaannya.
Hanya hati yang bersih yang bisa menerima cahaya ilahi. Makanya harus menyucikan diri dari dosa dan tingkah laku tercela.
Membersihkan diri dari keyakinan selain keyakinan kepada Allah SWT. Serta hati harus total berzikir kepada Allah SWT. (jif/naz/riz)
Editor : Achmad RW