Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Ratusan Warga di Perbatasan Jombang Terdampak Kekeringan, Harus Gali Sungai Kering Agar Dapat Air

Anggi Fridianto • Rabu, 25 Oktober 2023 | 13:00 WIB

 

 

Warga Dusun Tondowesi, Desa Klitih, Kecamatan Plandaan, Jombang menggali sungai yang kering untuk mencari air untuk kebutuhan mandi dan cuci
Warga Dusun Tondowesi, Desa Klitih, Kecamatan Plandaan, Jombang menggali sungai yang kering untuk mencari air untuk kebutuhan mandi dan cuci

JOMBANG – Kemarau panjang membuat ratusan warga di Dusun Tondowesi, Desa Klitih, Kecamatan Plandaan, Jombang kesulitan mendapat air bersih.

Mereka harus mencari air seadanya untuk keperluan sehari-hari.

Termasuk menggali air di dasar sungai yang sudah mengering.

Pantauan di lokasi, hingga Selasa (25/10), sejumlah warga menggali dasar sungai untuk mendapatkan air.

Mereka menggunakan air yang keruh itu untuk mencuci dan mandi.

Sedangkan, air untuk kebutuhan makan minum sehari-hari, mereka mengandalkan droping air bersih.

Puji Rahmawati, 32, salah satu warga mengaku, kekeringan sudah dirasakan warga sekitar sejak awal Oktober lalu.

”Orang-orang menggali sungai kering untuk mendapatkan air. Kemudian dipakai mencuci baju, mandi dan keperluan lainnya,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Untuk kebutuhan mandi dan mencuci, lanjut dia, sejak air semakin sulit, maka hanya mengandalkan air keruh dari dasar sungai.

Sedangkan untuk keperluan masak dan minum, warga menunggu kiriman air dari Pemkab Jombang.

Baca Juga: Petani di Jombang Kesulitan Air, Tanaman Padinya Dibiarkan Mengering di Sawah

”Kalau untuk mandi anak dan anggota keluarga lain ya dibawa pulang airnya,’’ terangnya.

Ia sendiri harus bolak-balik ke sungai bersama suaminya Saifudin, 42, untuk mengambil air.

Dasar sungai yang telah digali dan diambil airnya berkali-kali itu memang tidak selamanya mengeluarkan air.

”Kalau airnya habis ya gali lagi yang ada airnya,’’ papar ibu dua anak ini.

Hal sama juga diakui Suaibah, 35, warga lainnya. Ia mengaku, kesulitan mendapat air bersih dirasakan sejak awal Oktober lalu.

”Kondisi air di sumur warga sudah kering tidak ada airnya. Ini cari di sungai untuk mencuci baju,’’ jelas dia.

Untuk mengambil air sungai, warga harus jalan kaki bolak-balik sejauh 25 meter dari permukiman.

”Ya jaraknya tidak jauh, tapi lumayan capek karena bolak-balik,’’ terangnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Desa Klitih Siti Rohaini, menyampaikan kekeringan yang terjadi di Desa Klitih, khususnya Dusun Tondowesi, sudah terjadi sejak dua minggu lalu.

”Ini memang dampak kemarau panjang. Kalau di Tondowesi memang kebutuhan air kurang, namun untuk kebutuhan konsumsi masih bisa,’’ ujarnya.

Disampaikan, total ada 300 jiwa baik anak-anak, remaja dan lansia yang terdampak krisis air bersih. Jumlah itu berasal dari 115 kepala keluarga (KK).

”Di Tondowesi memang ada Pamsimas, tapi saat kemarau ini kekeringan, jadi airnya tidak keluar,’’ jelas dia.

Baca Juga: Petani di Jombang Kesulitan Air, Tanaman Padinya Dibiarkan Mengering di Sawah

Sebagai tindaklanjut krisis air di Dusun Tondowesi ini pihaknya sudah berkoordinasi dengan BPBD Jombang.

Dalam dua hari sekali, tim BPBD Jombang melakukan dropping sebanyak 2 tangkai air bersih yang berisi 10.000 liter air.

”Insya Allah dengan dropping air bersih itu cukup mengatasi kebutuhan warga,’’ pungkasnya. (ang/bin/riz)

Editor : Achmad RW
#plandaan #Jombang #kemarau #air bersih #Klitih