JOMBANG - Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Rabu (18/10), Wakil Sekretaris MUI Kabupaten Jombang, KH Khairil Anam Denanyar (Gus Anam), menjelaskan pentingnya menutup aib orang lain.
’’Menutup aib orang lain bisa membuat seseorang menjadi wali,’’ tuturnya.
Gus Anam lalu cerita Abu Abdirrahman Hatim ibn Alwan yang terkenal dengan nama Hatim Al Asom atau Hatim yang tuli.
’’Hatim ini aslinya penjaga toko biasa,’’ terangnya.
Suatu ketika, ada wanita beli ke tokonya. Ditengah beli, wanita ini kentut sangat keras. Wanita ini pun sangat malu. Wajahnya memerah.
Tahu wanita itu malu, Hatim kemudian berusaha menutupi aibnya. Hatim pura-pura tuli.
Ketika si wanita menyebut barang yang ingin dibeli, Hatim pura-pura tidak mendengar. Hingga si wanita mengulanginya tiga kali dengan suara makin keras.
Wanita itu pun tidak jadi malu, karena menyangka Hatim benar-benar tuli. Sehingga dia yakin Hatim tak mendengar kentutnya.
Hatim akhirnya dikenal sebagai orang tuli. Sehingga berjuluk al asom, yang tuli. ’’Hatim pura-pura tuli selama 30 tahun,’’ bebernya. Akhirnya, Hatim dikenal sebagai seorang wali.
’’Teladan kita menutup aib yakni Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam,’’ terangnya.
Sebagaimana disebutkan dalam QS Al Ahzab 21. Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.
Baca Juga: Binrohtal 2.057, Zuhud Kiat Agar Dicintai Allah dan Manusia
Yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah SWT dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah SWT.
Gus Anam cerita, suatu ketika habis Asar, Nabi dan para sahabat pernah diundang makan daging unta. Acara makan-makan baru selesai mendekati Magrib.
Bagitu akan salat Magrib, para sahabat gaduh karena mencium bau kentut yang menyengat.
Para sahabat saling menuduh temannya sebagai yang kentut. Tak ada sahabat yang mau mengaku.
Nabi lantas meredakan dan menutup aib yang kentut dengan mengatakan; Semua yang makan daging unta harus wudu dulu sebelum salat.
Para sahabat akhirnya wudu semua. Baik yang kentut maupun tidak. Ini semua dilakukan Nabi demi menutup aib yang kentut.
’’Sebab kalau Nabi hanya bilang, yang ketut harus wudu, maka yang kentut pasti akan malu,’’ terangnya. (jif/naz/riz)
Editor : Achmad RW