RADAR JOMBANG - Program Desa Mandiri Energi (DME) di Provinsi Jawa Tengah (Jateng) yang digagas sejak 2012 terus berkembang secara progresif.
Hingga Juni 2023, sudah ada 2.421 desa yang ditetapkan sebagai DME atau 28,2 persen dari total 8.562 desa dan kelurahan di Jateng.
Desa yang mengandalkan energi baru terbarukan (EBT) akan sangat diuntungkan karena dapat menjadi lebih mandiri secara energi.
Dengan memanfaatkan sumber daya alam setempat, mereka bisa mengurangi ketergantungan pada pasokan gas elpiji dan listrik PLN.
Alhasil, masyarakat tidak lagi terpengaruh oleh risiko fluktuasi harga dan pasokan bahan bakar dari negara.
Satu di antaranya adalah Desa Urutsewu, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali.
Di desa itu, kotoran ternak sapi dan ayam diubah jadi biogas yang berguna untuk bahan bakar memasak pengganti gas elpiji dan tenaga listrik.
Desa tersebut meraih penghargaan pada Lomba Desa Mandiri Energi yang diselenggarakan dalam rangka peringatan HUT ke-70 Provinsi Jawa Tengah.
Sutarjo, pengurus Kelompok Tani Sumber Makmur, berhasil mengolah kotoran sapinya menjadi gas untuk menghidupkan kompor di lima rumah sekitarnya.
”Langkah pengolahannya, kotoran dicampur air, kemudian dimasukkan ke digester sehingga air dan gas terpisah. Setelah gas di atas dan air di bawah, gas didistribusikan ke paralon,” terangnya.
Hal kreatif mandiri energi lainnya dilakukan oleh Rizki Emil Abdilah, peternak ayam di desa itu.
Dia berhasil memanfaatkan kotoran ayam menjadi energi alternatif untuk menyalakan mesin penggiling jagung serta kompor di rumahnya.
Kalau pakai bensin Rp 20 ribu untuk nyelep jagung 400 kilogram. Kalau pakai gas bisa nyelep dua jam, jadi irit Rp 20 ribu,” bebernya.
Sementara itu, di Dusun Gilingan, Desa Urutwatu, warga menghidupkan mesin pompa air yang listriknya bersumber dari genset berbahan bakar gas limbah tahu.
”Semula limbah tahu sempat dikeluhkan warga beberapa waktu lalu. Namun, setelah bermanfaat dan jadi biogas, warga tidak lagi mengeluh,” ungkap Ketua RT 05, RW 05 Suwarno.
Mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, Jateng memiliki banyak potensi EBT yang perlu dioptimalkan.
Misalnya, panas matahari, gas rawa, geothermal, angin, dan air yang tersebar di banyak daerah di Jateng.
”Kita sudah memulai. Kita mencoba mencari kekuatan lokal dan partisipasi dari masyarakat untuk jalan pelan-pelan meskipun kecil. Beberapa desa sudah jalan bagus dan ini yang paling penting adalah masyarakat bisa mandiri energi,” pungkasnya.
Sementara di Kabupaten Jombang, pemanfaatan energi baru dan terbarukan juga sempat dilakukan seorang pensiunan guru di Kelurahan Kaliwungu, Kecamatan Jombang bernama Rianto, 64.
Ia, dengan tekun merakit sebuah pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) mini di rumahnya.
Hasilnya pun menggembirakan, ia mengurangi ketergantungan listrik kepada PLN di rumahnya secara signifikan.
Sebelum ada PLTS, ia mengeluarkan sekitar Rp 200 ribu untuk pembayaran listrik. Namun, sekarang ia bisa menghemat hingga 65 persen.
Baca Juga: Lapak Ganjar Bantu UMKM Bangkit, Elisa Pun Kini Mampu Beli Rumah
”Sejak ada ini, berkurang sampai Rp 125 ribu, jadi bayar listrik PLN hanya Rp 75 ribu rupiah per bulan,’’ papar dia. Kemampuan seperti ini, harus terus dikembangkan.
Bahkan jika perlu ditingkatkan tularkan ke seluruh desa di Jombang. (riz/naz/riz)
Editor : Achmad RW