JOMBANG – Debu serbuk kayu limbah pabrik yang menganggu warga Dusun/Desa Tunggorono Kecamatan Jombang, masih terus melimpah.
Hingga Rabu (27/9), warga yang tak tahan dengan debu serbuk kayu itu terpaksa mengungsi. Beberapa lansia yang mengeluh sakit juga semakin bertambah.
”Sampai sekarang tidak ada perubahan. Saya menilai bahkan sangat parah,’’ ujar Karsono Ketua RT 01, dengan nada tinggi sembari menunjukkan debu serbuk kayu, kemarin (27/9).
Menurutnya, debu serbuk kayu yang dihasilan pabrik pengolahan kayu di Tunggorono masih dirasakan sampai sekarang
Debu serbuk kayu yang melanda warga di Gang I Dusun/Desa Tunggorono itu kian parah setiap hari.
Dua warga di RT-nya bahkan dilaporkan mengungsi ke rumahnya yang ada di Desa Sengon.
”Ya ada dua warga, yakni bapak sama anak. Sekarang mengungsi ke Sengon. Itu karena kebetulan dia mampu. Tapi bagi warga lain yang tidak mampu, ya tetap di rumah terdampak debu,’’ tambahnya.
Sampai dengan kemarin (27/9), Karsono menyebut belum ada solusi dari pabrik pengolahan kayu setempat.
Pihak manajemen pabrik hanya menjanjikan akan segera diatasi. Namun belum direalisasikan sampai sekarang.
”Kami sudah komunikasi dengan pabrik berkali-kali. Tapi sampai sekarang belum ada pertanggungjawaban,’’ jelas dia.
Sesuai kesepakatan terakhir, lanjutnya, warga meminta pihak pabrik agar kasus debu serbuk kayu diselesaikan paling lambat Jumat (29/9) besok.
Jika tidak, warga mengancam akan melaporkan ke ranah hukum.
”Kalau tidak ada pertanggungjawaban. Kita mau menuntut ke pabrik pengolahan kayu dan kita laporkan ke ranah hukum,’’ tegasnya.
Terpisah, Kepala Dusun Tunggorono M Rifai belum mengetahui jika ada warganya yang sampai mengungsi karena dampak debu serbuk kayu.
”Kemarin yang kami terima ada beberapa anak opname karena debu itu,’’ ujar dia.
Sebelumnya, ia telah menjembatani warga melakukan audiensi dengan pihak pabrik.
Setelah audiensi, debu memang mulai berkurang. Namun setelah itu debu kembali bertebaran di permukiman warga.
”Utamanya tuntutan warga, yakni debu tidak lagi bertebaran. Karena banyak menimbulkan kerugian, mulai kerugian kecil seperti mengotori rumah, juga membuat kesehatan warga terganggu,’’ pungkasnya. (ang/bin/riz)
Editor : Achmad RW