Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Cerita Tuminah Veteran dari Jombang Saat Berjuang Meraih Kemerdekaan Indonesia

Azmy endiyana Zuhri • Kamis, 17 Agustus 2023 | 13:00 WIB
Tumiah, veteran di Desa Carangrejo, Kecamatan Kesamben yang masih hidup. Saat mempertahankan kemerdekaan, ia bertugas sebagai palang merah di Hisbullah
Tumiah, veteran di Desa Carangrejo, Kecamatan Kesamben yang masih hidup. Saat mempertahankan kemerdekaan, ia bertugas sebagai palang merah di Hisbullah

JOMBANG - Kemerdekaan Indonesia tak lepas dari upaya para pejuang yang rela mengorbankan jiwa raga. Tak Terkecuali di Jombang, Salah satuntya Tuminah ini.

Tuminah, adalah veteran pejuang Kemerdekaan yang kini tinggal di Dusun/Desa Carangrejo, Kecamatan Kesamben. 

Usia Tuminah sudah 95 tahun. Kulit keriputnya terlihat jelas. Namun pendengaran dan penglihatannya masih tajam.

Bahkan saat diajak berbincang-bincang dengan wartawan koran ini, Tuminah secara tegas langsung menjawab. Tuminah salah satu saksi mata perjuangan mempertahankan Kemerdekaan RI.

Waktu itu, ia bertugas sebagai tenaga medis atau yang dulu disebut palang merah pasukan tentara Hizbullah di Batalyon 39 Condromowo yang dikomandani Munasir Ali.

Meski tubuhnya sudah renta, daya ingat tentang dirinya merebut melawan para penjajah masih sangat tinggi.

”Dulu itu ada penjaringan untuk melawan penjajah. Siapa yang berani mendaftar. Saat itu saya masih usia 20 tahun, tepatnya tahun 1945, langsung mendaftar,” ujarnya sembari menunjukkan beberapa foto kenangan saat bertugas.

Bahkan, saat semua pasukan berperang di berbagai daerah seperti Kandangan Kediri dan Wonosalam Jombang, ia kerap ikut mengangkat senjata. Tuminah mengaku sering kontak senjata dengan tentara Belanda.

“Saya sering bermalam di hutan. Apabila pasukan bertempur saya juga ikut maju bertempur,” kenangnya.

Meski sehari-hari tidak memegang senjata, namun peran wanita yang mempunyai 14 anak ini sangat penting. Karena ia harus merawat pasukan pejuang yang mengalami luka tembak atau sakit.

”Dulu apabila ada pasukan yang tertembak, saya bawa ke rumah warga dan saya rawat,” ungkapnya.

Saat merawat pejuang yang sakit atau tertembak, lanjut dia, seringkali merasakan hujan tembakan di sekitar lokasi. Bahkan, pernah menghadapi tank milik penjajah Belanda.

Rasa takut meninggal di medan pertempuran tidak pernah ada di benaknya. ”Kalau perang itu peluru dimana-mana, saya sampai merangkak tiarap agar tidak terkena tembakan,” beber dia.

Baru pada 1948, kemerdekaan benar-benar ia rasakan. Setelah penjajah meninggalkan Indonesia, ia kembali pulang.

”Saya tidak tahu kalau ada lanjutannya yang sekarang disebut pejuang pembela. Karena tidak tahu itu saya pulang ke rumah dan tidak melanjutkan,” tegas istri Suparman ini.

Setelah menjadi pejuang dan kembali pulang, ia lebih fokus untuk mengurus rumah tangga. Terlebih, hasil pernikahannya dengan Suparman diberi amanah 14 anak.

”Dulu setelah pulang itu ya menjadi petani dan ternak sapi. Untuk biaya sekolah anak-anak,” tambah dia.

Karena itulah Tuminah merasa senang bisa menjadi bagian dari Kemerdekaan RI. Dirinya berharap kepada penerus bangsa agar tidak melupakan perjuangan para pejuang yang merebut kemerdekaan dari penjajah.

”Ya, merasa senang bisa merdeka seperti sekarang. Karena waktu itu sangat susah,” pungkasnya. (yan/bin/riz)

 

 

Editor : Achmad RW
#Kesamben #veteran #Jombang #pejuang kemerdekaan #kemerdekaan indonesia #Carangrejo