JOMBANG - Kelangkaan eloiji melon alias elpiji 3 kilogram dalam sebulan terakhir membuat sejumlah warga di Jombang berputar otak. Sebagian diantaranya, memilih kembali menggunakan kayu bakar untuk memasak.
“Ya, menggunakan pawonan (tungku kayu, Red) lebih irit," ujar Juwariyah, 64, salah seorang warga Desa Pulorejo, Kecamatan Ngoro.
Sejak elpiji sulit didapatkan karena di mana-mana kosong, ia sering menggunakan kompor kayu untuk memasak sehari-hari.
"Sekarang elpiji sulit didapatkan. Jadi kalau tidak mendapat elpiji ya memasak dengan kayu bakar," bebernya.
Ia mengaku, memasak dengan kayu bakar bisa menghemat lebih banyak. Biaya yang dikeluarkan juga lebih ditekan.
Sebelum menggunakan kayu bakar, biasanya ia menghabiskan satu tabung di setiap minggu. Bila dikalkulasi, maka dalam satu bulan ia bisa menghabiskan empat tabung elpiji.
"Kalau menggunakan kayu bakar kan tidak beli. Sekarang juga tidak ketergantungan dengan elpiji," tambah dia.
Masak dengan kayu bakar, juga bisa selesai cepat dan olahan masakannya lebih enak.
Sementara itu, Winarsih, 49, pemilik toko kelontong di desa sekitar mengaku sudah empat hari ini dirinya tidak mendapat kiriman elpiji dari agen. Padahal, biasanya dua hari atau tiga hari sekali, elpiji dikirim. Jumlah tabung yang dikirim juga berkurang lebih banyak.
Jika biasanya mendapat jatah 30 tabung elpiji 3 Kg, sekarang hanya menjadi 7-10 tabung. "Jadi sekarang stok kosong,” sebutnya.
Melihat pengiriman yang sangat terbatas inilah harga jual juga turut terdongkrak. Ada kenaikan Rp 500 per tabung. "Kalau memang langka seperti ini naik wajar. Saya terakhir jual Rp 19 ribu per tabung," beber dia.
Untuk itu, pihaknya berharap distribusi elpiji melon bisa kembali normal. "Kasihan warga kesulitan mencari elpiji. Masak harus kembali menggunakan kompor kayu," pungkasnya. (yan/bin/riz)
Editor : Achmad RW