JOMBANG – Sebaran temuan angka stunting di Jombang memang merata di semua kecamatan di Kabupaten Jombang. Namun, ada dua kecamatan yang paling mendapat perhatian serius, yakni Kecamatan Mojoagung dan Ngoro. Sebab, balita yang terdeteksi stunting mencapai 500 lebih.
Di Kecamatan Mojoagung misalnya, temuan angka stunting mencapai 527 balita. Jumlah ini hampir imbang dengan temuan stunting di Kecamatan Ngoro yang mencapai 553 balita.
”Kasus stunting di Jombang mengalami kenaikan tahun 2023,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Jombang drg Budi Nugroho, saat dikonfirmasi kemarin.
Ia lantas mencontohkan di Kecamatan Ngoro sendiri, pada tahun sebelumnya, kasus balita stunting terdeteksi 405 kasus. Saat ini meningkat menjadi 527 kasus.
Kondisi ini terdapat juga hampir di semua kecamatan, kasus stunting mencapai ratusan balita (lihat grafis, Red). “Untuk penanganan kami tetap memberikan makanan tambahan dan multivitamin,” tegasnya.
Sementara itu, dr Pudji Umbaran Kepala DPPKB-PPPA Jombang menambahkan, terdapat 400.000 kepala keluarga di Jombang yang 21 persen merupakan kepala keluarga berpotensi stunting. Untuk mengatasi tingginya angka stunting, pihaknya akan melakukan pendampingan dan sosialisasi di desa-desa.
"Kami coba memaksimalkan pendampingan oleh penyuluh KB untuk memaksimalkan kegiatan keluarga kampung berkualitas. Dan nanti aksi langsungnya di desa," tutur mantan Direktur RSUD Jombang ini.
Ia berharap, semua pendamping bisa bersinergi dengan pihak desa. Termasuk berpartisipasi dengan dunia usaha. Semua partisipasi masyarakat dikaryakan dan diberdayakan.
Keluarga yang berisiko stunting diakibatkan terlalu dini untuk menikah, terlalu tua melahirkan, terlalu banyak melahirkan dan terlalu dekat jarak melahirkan. ”Ini ibu-ibu yang berpotensi stunting,” pungkas Pudji. (yan/bin/riz)
Editor : Achmad RW