Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Saat Umat Tionghoa Gelar Ritual Ceng Beng di Makam Gus Dur

Achmad RW • Minggu, 25 Juni 2023 | 17:27 WIB

 

 

Ratusan umat Tionghoa dari Semarang, Surabaya dan Jombang menggelar ritual cengbeng (ziarah) ke Makam Gus Dur, Sabtu (24/6)
Ratusan umat Tionghoa dari Semarang, Surabaya dan Jombang menggelar ritual cengbeng (ziarah) ke Makam Gus Dur, Sabtu (24/6)

JOMBANG – Ratusan umat Tionghoa dari Semarang, Surabaya dan Jombang menggelar ritual cengbeng alias ziarah ke Makam Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di komplek Pondok Pesantren Tebuireng, kemarin (24/6). Ritual tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Gus Dur atas jasanya menyatukan keberagaman.

Pantauan di lokasi, sekitar pukul 13.00, tampak ratusan umat Tionghoa memasuki makam Gus Dur. Barisan paling depan menandu papan arwah dari kayu yang bertuliskan Gus Dur.

Barisan kedua dan seterusnya diikuti umat Tionghoa dari sejumlah wilayah. Ritual semakin semarak dengan iringan musik khas Tionghoa.

Setiba di makam, mereka menempatkan papan arwah yang dibawa dari Semarang itu tepat di samping makam Gus Dur. Mereka kemudian membersihkan sekitar makam dengan sapu. Ritual kemudian diakhiri dengan doa bersama.

 ”Ya, memang kami membawa papan arwah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang kami letakkan di meja leluhur di Semarang sana, sebagai bentuk penghormatan etnis Tionghoa terhadap Gus Dur,’’ ujar ketua rombongan Harjanto Halim sekaligus Ketua Perkumpulan Tionghoa Boen Hian Tong Semarang.

Ritual cengbeng sudah dua kali dilakukan. Namun papan arwah tersebut diakui sudah ada sejak 2014 lalu yang diserahkan langsung kepada Sinta Nuriyah Wahid. ”Tahun ini kami ke sini (Makam Gus Dur, Red) lagi membawa papan arwah,’’ jelasnya.

Dijelaskan, ritual cengbeng adalah ritual untuk menghormati sosok Gus Dur yang dinilai telah menjunjung nilai keberagaman, kemanusiaan dan demokrasi. ”Mudah-mudahan ini bisa menjadi pengingat kita, menjadi contoh Gus Dur dengan keteladanannya. Sebab sosok Gus Dur kami hormati. Bahkan, oleh etnis Tionghoa Gus Dur mendapat gelar Bapak Tionghoa Indonesia dan Guru Bangsa,’’ tambah Pepeng Putra Wirawan selaku Ketua PSMTI Jawa Timur.

Menurutnya, sosok Gus Dur adalah pelindung etnis minoritas di tengah mayoritas. Hal itu disebut sebagai perwujudan Islam yang rahmatan lil alamin sebagai agama yang melindungi dan merawat keberagaman.

”Selain itu sebagai bentuk penghormatan terhadap Gus Dur, kami menjadikan tradisi makan kikil kesukaan Gus Dur ketika haul dan sembahyang arwah. Kita minta kiriman kikil dari Jombang sebagai bentuk merawat tradisi,’’ pungkasnya. (ang/bin)

Editor : Achmad RW
#Jombang #ceng beng #tebuireng #tionghoa #makam gus dur