”Dari data itulah, kita pada peringkat ke-9 untuk AKI, dan peringkat ke-5 untuk AKB se-Jawa Timur,” kata drg Budi Nugroho Kepala Dinas Kesehatan Jombang, melalui dr Wahyu Sriharini Kabid Kesehatan Masyarakat, kepada wartawan koran ini kemarin.
Ia menyebut, angka kelahiran hidup dalam enam tahun terakhir rata-rata 19.287. Sedangkan angka kematian ibu dan bayi cukup fluktuatif. Berturut-turut sejak 2015 terjadi 16 kasus AKI dan 203 AKB. Disusul 2016 terjadi 17 kasus AKI dan 206 AKB dari 19.477 kelahiran hidup.
Kemudian, AKI meningkat di tahun 2017 menjadi 28 kasus. Namun AKB menurun menjadi 159 kasus dengan jumlah kelahiran 19.707. Setahun kemudian, lanjut dia, AKI menurun di tahun 2018 menjadi 18 kasus. “Namun AKB meningkat menjadi 199 kasus dari 18.928 kelahiran hidup,” jelasnya.
Temuan menurun lagi di tahun 2019 ada 14 kasus AKI dan 167 AKB dari 19.543 kelahiran hidup. Hanya bertahan setahun, di 2020 kasus AKI meningkat tajam menjadi 20 kasus. Sementara AKB turun menjadi 137 dari 19.663 kelahiran hidup. Begitu juga tahun 2021 kembali naik menjasi 26 kasus AKI, dan 146 kasus AKB dari total 18.406 kelahiran hidup.
Kemudian Wahyu memaparkan temuan kasus AKI tahun ini tercatat 100,74 per 100.000 kelahiran hidup. Sementara 7,6 AKB dari 1.000 kelahiran hidup. Menurutnya, kelahiran hidup di Jombang jika dihitung rata-rata 19.287 dalam kurun waktu 2016-2021.
Salah satu upaya pencegahan yang bisa dilakukan, dengan melakukan pendampingan kepada ibu hamil (bumil), proses persalinan, nifas, hingga bayi baru lahir. Pencegahan tersebut bisa dilakukan di masing-masing puskesmas. Menurutnya, mematangkan usia pernikahan juga perlu dilakukan. “Bila usia ibu cukup, maka membawa dampak yang baik terhadap kesehatan ibu dan bayi selama hamil hingga proses melahirkan,” tegas Wahyu. (wen/bin/riz)
Editor : Achmad RW