Head of Climate and Water Stewardship Danone Indonesia Ratih Anggraeni mengatakan, pihaknya berkomitmen dalam menjaga sumber daya air untuk keberlanjutan lingkungan. ”Dan bisnis bersama masyarakat serta pemangku kepentingan,” kata Ratih.
Dikatakan, pihaknya juga terus menjaga kuantitas dan kualitas air di daerah aliran sungai (DAS), yakni dengan menginisiasi berbagai penelitian dan program. ”Mulai penelitian hidrogeologi, program konservasi, dan pembentukan forum pengguna air untuk memastikan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan dalam mengelola DAS,” imbuh dia.
Sampai saat ini, Danone-AQUA memiliki 22 pabrik di Indonesia. Upaya kontribusi ke lingkungan juga sudah dilakukan. Tujuannya berkaitan ketersediaan air dengan menanam jutaan pohon. ”Sampai saat ini tercatat 2,5 juta pohon yang sudah tertanam, disertai digital monitoring untuk lokasi dan pertumbuhannya,” ujar Ratih.
Tidak hanya itu, pihaknya juga sudah membangun belasan taman keanekaragaman hayati (kehati) di berbagai wilayah. ”Ada 18 taman kehati juga sudah dibangun, lalu ada lebih dari 2.000 sumur resapan, dan 90.000 biopori, serta 74 penampung air hujan dan 438 ribu penerima manfaat air bersih,” lanjut Ratih.
Menurutnya, sampai sekarang pihaknya terus berupaya melakukan pengembangan program untuk meningkatkan akses air bersih, sanitasi dan penyehatan lingkungan bagi masyarakat sekitar pabrik, serta wilayah operasional AQUA di Indonesia yang kekurangan akses air bersih. ”Kami juga menjalin kerja sama dengan LSM lokal dan internasional untuk meningkatkan jangkauan dan jaminan keberlanjutan program,” tutur dia.
Pihaknya juga menginisiasi model bisnis inovatif untuk mendukung seluruh program. Program validasi yang terukur dari lembaga kredibel, menurut Ratih, memiliki peran penting meningkatkan kualitas dan pengelolaan SDA. ”Karena itu kami bermitra dengan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) untuk melakukan proses validasi program pengelolaan sumber daya air kami,” kata Ratih.
Jaga Keseimbangan Siklus Air
SEMENTARA itu, Direktur Bina Teknis Sumber Daya Air Kementerian PUPR Muhammad Rizal mengatakan, pengelolaan air secara terpadu berbasis DAS (Daerah Aliran Sungai) diperlukan. Itu dilakukan untuk menjaga keseimbangan siklus air dan memastikan para pengguna air di sekitar terhindar bencana.
”Sehingga dapat mempertahankan mata pencahariannya,” kata Rizal dalam sambutan peringatan Hari Air Sedunia, Maret lalu.
Dikatakan, DAS yang terkelola dengan baik dapat memastikan ketersediaan air tanah tetap terjaga. Sehingga memenuhi kebutuhan air di daerah hilir yang kebanyakan merupakan daerah permukiman perkotaan dan kawasan industri.
Menurut Rizal, indeks pemakaian air di Indonesia menunjukkan beberapa tempat mempunyai status kritis sedang hingga kritis berat. Seperti di pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi serta Bali dan Nusa Tenggara. ”Indeks pemakaian air mencapai 50-100 persen untuk berbagai keperluan, seperti domestik, industri dan pertanian,” imbuh dia.
Kondisi itu, menurut Rizal, merupakan tantangan yang harus dihadapi bersama. Salah satu solusi dengan pembangunan infrastruktur dan pengelolaan SDA ditujukan kesejahteraan masyarakat. ”Itu dilakukan untuk mewujudkan sustainable development goals (SDGs) terutama tujuan keenam, yakni pemenuhan terharap air bersih dan sanitasi yang layak pada situasi di mana saat ini terjadi perubahan iklim yang cukup ekstrem,” tutur dia.
Sehingga, lanjut Rizal, secara bersamaan Indonesia juga harus memenuhi tujuan ke-13 dari SDGs. Yakni, penanganan perubahan iklim. ”Keterlibatan masyarakat dan badan usaha dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam pengelolaan SDA, dan diharapkan kinerja infrastruktur yang sudah terbangun dapat terjaga dengan baik,” kata Rizal.
Lakukan Riset Program Konservasi Sumber Daya Air
TERPISAH, Peneliti Air Tanah Badan Riset dan Inovasi Air (BRIN) Rachmat Fajar mengatakan, pemahaman tentang ketersediaan air tanah harus terus ditingkatkan. Karena dalam satu dekade ini persediaannya terus menurun.
”Metode kuantifikasi di enam sektor yang terintegrasi, di antaranya penanaman pohon, dan pembangunan sumur resapan untuk konservasi air hendaknya dapat dilakukan secara nasional,” kata Rachmat.
Sebab, langkah itu akan sangat bermanfaat untuk memonitor ketersediaan air. Pada akhirnya, juga diperlukan dukungan serta partisipasi untuk menjaga bangunan konservasi air. ”Harapannya pemanfaat air bisa melakukan pengukuran secara ilmiah untuk memastikan langkah pelestarian yang diambil sudah tepat saaran dan efektif,” imbuh dia.
Menurutnya, program berbasis data dapat dipertanggungjawabkan dengan kajian yang dilakukan pihak kompeten dan independen. ”Upaya pengukuran keberhasilan dampak air positif juga sudah dilakukan Danone-AQUA bersama dengan kami,” ujar Rachmat.
BRIN juga melakukan validasi atas analisa dan kalkulasi dampak pengurusan aktivitas pengelolaan air yang dilakukan Danone-AQUA. Melalui metode Volumetric Water Benefit Analysis (VWBA) di dua lokasi pabrik di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Masing-masing di Mekarsari dan Babakanpari di sumber air kubang. ”Menjawab tantangan dan juga peluang salah satunya merupakan tanggung jawab pelaku industri, Danone-AQUA menyampaikan program dan inisiatifnya dalam melakukan usaha-usaha pelestarian siklus air dan juga ketersediaan air,” kata Rachmat. (fid/naz/riz) Editor : Achmad RW