Kepala Dinsos Jombang Hari Purnomo menjelaskan, terkait penetapan data penerima BLT BBM pihaknya tak ikut menentukan. ”Terkait penetapan data penemina bantuan sosial tersebut yang menentukan Kemensos,” ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang kemarin (18/9).
Hari menerangkan, data penerima bansos awalnya berawal dari usulan desa. Kemudian, dinas sosial melakukan verifikasi kelengkapan. Setelahnya data diusulkan ke Kemensos. ”Kemudian sana (Kemensos, Red) yang menentukan,” tambahnya.
Disinggung terkait banyaknya data penerima diduga yang tak tepat sasaran, termasuk warga meninggal namun masuk kuota penerimaan, Hari menyebut akan melaporkan ke Kemensos. Saat ini pihaknya tengah melakukan evaluasi dan rekapitulasi terkait hasil penyaluran BLT BBM tahap 1 tersebut. ”Saat ini masih kita inventarisir ada berapa warga meninggal yang belum menerima BLT BBM. Selanjutnya, kita laporkan ke pusat,” jelas dia.
Sebenarnya, lanjut Hari, sesuai surat edaran yang ada, jika warga meninggal namun masuk kuota penerimaan tidak masalah. BLT BBM tetap bisa dicairkan kepada ahli waris. Syaratnya, cukup membawa kartu keluarga (KK). ”Ya tetap bisa diambil anggota keluarga dalam satu KK. Misalnya, ada ibu yang meninggal bisa diambil suami/anaknya. Asalkan membawa KK dan dilengkapi surat keterangan dari pemerintah desa,” papar dia.
Hari tak menampik, kemarin telah menerima informasi keluhan sejumlah warga dan Pemerintah Desa Kepatihan terkait banyak data warga meninggal tersebut. Secepatnya ia akan menindaklanjuti. ”Ya dari informasi awal yang kami baca di koran memang seperti itu. Jadi memang data BLT BBM ini adalah data penerima KPM PKH dan BPNT,’’ tandasnya.
Secara umum, dari hasil penyaluran BLT BBM tahap I berjalan lancar. Namun diakui, ada beberapa keluhan terkait data penerima. Termasuk keluhan warga yang tidak menerima BLT BBM meski namanya tercatat di website Kemensos RI. ”Ya itu, sebagai catatan kami dan akan kami laporkan ke Kemensos,” pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, penyaluran BLT BBM dikeluhkan sejumlah warga di Desa Kepatihan, Kecamatan Jombang kemarin (17/9). Menyusul, sejumlah warga kurang mampu tak menerima bantuan dari Kemensos tersebut. Ironisnya, puluhan warga yang sudah meninggal dunia justru masuk data penerimaan.
Seperti diungkapkan, Sairoji, 46. Warga yang sehari-harinya kerja serabutan ini tak menerima BLT BBM. ”Ya saya tidak menerima yang tahun ini. Hanya menerima BLT yang tahun lalu,” ujar dia.
Ia menambahkan, dirinya tahun lalu telah mendapatkan BLT Dana Desa 2021. Namun, saat penyaluran BLT BBM beberapa waktu lalu, dirinya tak lagi mendapat panggilan ataupun undangan dari desa. ”Ya tidak ada panggilan, jadi mau bagaimana lagi,” tambahnya. (ang/naz/riz) Editor : Achmad RW