“Ya memang ada peningkatan, karena mau Idul Adha, jadi produksi dimaksimalkan 2,5 kuintal setiap hari,” ungkap Heru Subandi, 53, pemilik usaha. Setiap harinya, pembuatan tusuk sate di belakang rumahnya tak pernah sepi. Ia dan pegawainya hilir mudik membawa bambu utuh hingga potongan bambu untuk diproses.
Dimulai dari pemotongan bambu utuh. Bambu jenis ori ini didatangkan dari luar kota karena memang kualitasnya lebih bagus. “Ada yang dari Madura, Ponorogo dan Pacitan,” ungkapnya. Bambu besar ini dipotong menggunakan mesin dengan ukuran 20 sentimeter. Setelah itu bambu dibelah menjadi dua.
Ia menggunakan mesin untuk mencetak potongan bambu agar berbentuk lidi. “Setelah itu baru dijemur, dioven beberapa jam, terus dimasukkan mesin lagi sambil diberi lilin biar halus,” tambahnya.
Setelah rampung, barulah lidi yang sudah jadi ini diruncingkan dan dibungkus dengan plastik. Heru menjual tusuk sate itu dalam kemasan. Yang paling kecil dengan berat 2,5 ons, ia jual Rp 4.500 hingga Rp 5.000. “Yang paling besar ukuran satu kilogram itu biasanya Rp 12 ribu sampai Rp 15 ribu,” tambahnya.
Produksi jelang Idul Adha ini ia mengaku bisa menghabiskan 90 batang bambu setiap hari. Tusuk satenya dikirim ke sejumlah kota di Jombang dan sekitarnya. “Paling banyak Jombang dan Surabaya, tapi ada juga luar pulau,” pungkas dia. (riz/bin) Editor : Achmad RW