Lokasi warung ini berada di timur monumen Ringin Contong Jombang menempati emperan toko. Sebuah sepeda motor Vespa Super keluaran 1976, terlihat dipajang pemiliknya. Tikar sebagai tempat pelanggan juga dibeber di kanan dan kiri sepeda motornya.
Tak cuma Vespa biasa, ia memodifikasi motornya itu. Pemilik warung menaruh boks kayu di jok belakang sebagai tempat menyimpan peralatan kompor, elpiji, penggilingan kopi atau grinder dan bahan-bahan untuk membuat berbagai minuman.
Boks kayu didesain untuk mini bar sebagai tempat untuk meracik minuman kopi. ”Sesuai namanya Kopling alias kopi keliling, jadi konsepnya ya begini, warung yang bisa dipakai keliling, tapi menggunakan Vespa,” ucap Febry Addakhil Alfarisi, 28, pemilik warung.
Ia mengaku baru beberapa bulan terakhir menekuni bisnis ini. Ide berjualan kopi dengan vespa ini, datang saat Febry berkunjung ke Yogyakarta. Di situ ia melihat orang berjualan kopi keliling menggunakan sepeda ontel. ”Setelah itu saya akhirnya kepikiran pakai konsep serupa, dan karena saya punya vespa jadilah motor ini saya modifikasi,” ucapnya.
Selain konsep lapaknya yang unik, produk kopi yang dijual juga jenis premium. Seperti kopi robusta, arabika hingga kopi dari Wonosalam. Febry, juga menyajikan es kopi layaknya sajian kopi ala kafe. ”Ada yang sachet, tapi saya juga sediakan kopi yang bisa digrinder di sini, jadi walaupun ngemper kopinya tidak kopi asalan,” lontarnya.
Kopi yang dijual Febry juga cukup ramah di kantong. Untuk segelas es kopi, ia patok harga antara Rp 9 ribu – Rp 10 ribu. Sementara untuk segelas kopi hitam ia jual seharga Rp 4 ribu – Rp 5 ribu. Dengan itu, setiap harinya ia mengaku bisa menjual hingga puluhan porsi kopi setiap harinya. "Kalau es kopi setiap hari habis 20 gelas, kalau kopi habis 30 gelas dalam sehari. Beda kalau pas event, es kopi biasanya bawa 45 gelas kalau kopi habis 3,5 kg biji kopi. Omzet sekitar Rp 150 ribu di hari biasa, kalau event alhamdulillah Rp 450 ribu," terangnya.
Meskipun sehari-harinya ia biasa menggelar lapak di sekitaran menumen Ringin Contong, konsep kopi kelilingnya ini membuatnya juga bisa menjajakan dagangannya di berbagai tempat lain. Pecinta motor vespa ini juga kerap kali berkeliling ke luar kota untuk berjualan. Seperti mendatangi event musik atau komunitas vespa di Tulunganggung, Nganjuk, Magetan, Yogyakarta hingga Jepara.
"Nah 'Kopling' memang kan keinginan saya tidak menghilangkan hobi saya touring vespa. Jadi saat touring masih bisa berjualan, jemput bola ambil rezeki," pungkas pemuda asal Desa Sambongdukuh, Kecamatan Jombang ini.