Pantauan di lokasi, kondisi bangunan rumah Arifin memprihatinkan. Bangunan pondasi rumahnya hanya berjarak sekitar setengah meter dari bibir Kali Gunting. Dia pun sadar akan bahaya yang mengancam dirinya dan keluarganya. Namun demikian, penjual tempe keliling ini hanya bisa pasrah. ”Sebelumnya memang sudah longsor, tapi Kamis (10/3) malam kemarin itu bertambah lagi,” terang Arifin, pemilik rumah.
Pria penjual tempe ini menerangkan, sebelum longsor Kamis (10/3) malam, kondisi tanggul di rumahnya memang sudah kritis. Beberapa kali dia bahkan mengupayakan membuat tanggul darurat dengan biaya sendiri.
Hingga bersamaan Kamis (10/3), saat itu dirinya sudah waswas melihat kondisi debit air sungai yang tinggi. Benar saja, sekitar pukul 21.00, dia mendapati tanggul di belakang rumahnya longsor.
Tak berhenti sampai di situ, sekitar pukul 22.00 giliran tanggul di samping kandang sapi di belakang rumahnya ikut longsor. Saat itu dia melihat ada sangkrah pepohonan yang terjebak. Semakin malam, air terus menggerus tanggul di samping rumah. ”Sekitar pukul 23.00 longsor lagi,” terangnya.
Arifin menerangkan, sejak dulu sudah seringkali petugas mendatangi rumahnya mengecek kondisi tanggul rusak. ”Sebenarnya dari dulu sudah rusak tanggulnya, tapi tidak kunjung diperbaiki. Hanya janji terus tapi tidak pernah ada kelanjutannya,” keluh Arifin.
Melihat kondisi rumahnya semakin terancam, Arifin berharap segera ada perhatian dari pemerintah untuk memperbaiki tanggul. ”Terus terang kalau musim hujan seperti ini saya selalu waswas, tidak bisa tidur nyenyak apalagi kalau debit air sungai sedang tinggi,” singkatnya. Editor : M Nasikhuddin