DEKORASI pernikahan masih terpajang di teras rumah Abdul Muin, 52 dan Siti Khotijah, 51, warga Dusun Gebangsari, Desa Trawasan, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang. Namun dekor itu tak utuh lagi karena sudah dibongkar dan diangkut sang pemilik.
Selain itu, ada tenda dan kursi tamu yang tersisa. Berbeda dengan pernikahan pada umumnya, ratusan kursi plastik itu ditumpuk tinggi. Tujuannya, tamu dan rombongan pengantin yang datang masih bisa duduk dengan posisi lebih tinggi.
"Kuade (baca; dekor) tadi masih aman karena berada di teras rumah," ujar Abdul Muin. Ia tak pernah membayangkan, pernikahan putrinya yang ke-4 diwarnai dengan musibah banjir. Keluarganya tak bisa membatalkan pernikahan karena acara sudah terlanjur dirancang sejak lama. Semua undangan juga sudah disebar.
Maka mau tidak mau, pesta pernikahan anaknya tetap digelar di tengah banjir. Tentu saja, pesta pernikahan tidak bisa meriah. Jauh dari harapan. "Ya kecewa semua, tapi mau gimana lagi. Sepi, hanya sedikit tamu undangan yang datang karena banjir," tambahnya.
Sebelumnya, ia sendiri sudah merasa ketir-ketir setelah Kamis (10/3) air mulai masuk jalan desa. "Malamnya malah tinggi, pas Hari H malah jadi setengah meter," papar Muin. Sehingga acara temu manten tetap berlangsung meski diwarnai basah-basahan. Jangankan para tamu, kedua mempelai juga harus tetap basah-basahan. "Ya, tamu dari pengantin pria semua basah," ungkap dia.
Sang pengantin wanita Irmawanti sendiri mengaku ingin tertawa dan sedih di hari bahagianya yang harus diwarnai banjir. "Tapi Alhamdulillah resepsi pernikahan berjalan lancar," ucapnya. Sedih yang ia rasakan suasana masih banjir, sehingga teman-temannya banyak yang tidak hadir. "Tadi sudah saya kasih tahu kalau banjir," pungkasnya. Editor : Rojiful Mamduh