Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Binrohtal 1.382: Pindah Kiblat

Rojiful Mamduh • Jumat, 11 Maret 2022 | 14:50 WIB
Photo
Photo
Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Kamis (10/3), KH Achmad Roziqi LC, menjelaskan peristiwa yang terjadi di Syakban. ’’Pada bulan Syakban terjadi pemindahan kiblat,’’ tuturnya.

Umat Islam pernah salat menghadap Baitul Maqdis Palestina selama 17 bulan tiga hari. Hal ini berdasarkan perhitungan Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam tiba di Madinah pada Senin, 12 bulan Rabi’ul Awwal. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk pindah arah kiblat ke Kakbah pada Selasa pertengahan Syakban 2 H atau 624 M.

Ini diabadikan dalam QS Albaqarah 144. Sungguh Kami sering melihat mukamu menengadah ke langit berdoa agar kiblat salat dipindah dari Baitul Maqdis ke Kakbah. Maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani yang diberi Al Kitab mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

’’Maka di bulan Syakban ini kita harus memperbaiki salat,’’ ajaknya. Ustad Roziqi menyampaikan, dalam salat banyak doa yang sangat bermanfaat bagi kita.

Kala mikraj, Allah subhanahu wa ta’ala mendoakan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam; Assalamu alaika ayyuhannabiyyu wa rahmatullah wa barakatuh. Keselamatan, rahmat dan keberkahan atasmu wahai nabi.  Nabi ingin agar umatnya juga mendapatkannya. Makanya nabi menjawab; Assalamu alaina wa ala ibadillahissolihin. Keselamatan atas kami dan orang-orang yang saleh. ’’Kami adalah kita dan orang-orang di sekeliling kita,’’ ucapnya.

Bacaan itu kita baca saat tahiyat. Sehingga ketika salat, sejatinya kita mendoakan diri kita dan orang-orang di sekitar kita.

Pertengahan Syakban atau tanggal 15 Syakban disebut nisfu Syakban. Ini termasuk malam yang mulia, penuh keistimewaan dan keberkahan. Pada malam itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak beribadah dan berdoa kepada Allah SWT.

Alkisah,  Nabi Isa alaihissalam berjalan ke suatu gunung. Lalu melihat sebuah batu yang sangat tinggi dan berukuran besar. Warnanya putih melebihi susu.

Allah SWT lalu menurunkan wahyu kepadanya; Wahai Isa, apakah engkau ingin tahu tentang sesuatu yang lebih mengagumkan dari ini? ’’Tentu saja, Ya Rabb,’’ jawab Nabi Isa.

Lalu, puncak batu itu terbelah menjadi dua. Di dalamnya terdapat orang yang sudah tua memakai baju berbahan bulu dan berwarna putih. Di tangannya terdapat sebuah tongkat hijau. Di depannya terdapat banyak makanan dan buah-buahan. Nabi Isa yang keheranan melihatnya lantas bertanya; Wahai orang tua, apa yang sedang aku lihat ini?

’’Ini rezeki bagiku setiap hari,” jawab orang tua itu.

Nabi Isa bertanya kembali; Sudah berapa lama engkau beribadah kepada Allah SWT dalam batu ini? ’’Aku telah beribadah kepada Allah SWT selama 400 tahun,’’ jawabnya.

Selama di dalam batu, jika dia lapar dan ingin makan ini itu, maka makanan yang diinginkan langsung muncul. Di lihat dari luar, batu itu kecil. Tapi di dalamnya sangat luas, bahkan melebihi bumi. Itu nikmat yang luar biasa dari Allah kepada hamba-Nya.

Nabi Isa kemudian bertanya kepada Allah SWT; Wahai Tuhanku, apakah ada makhluk yang lebih mulia dari orang ini? Allah SWT kemudian berfirman; Umat Muhammad SAW yang bertemu dengan bulan Syakban, kemudian ia melakukan salat di malam nisfu Syakban, beribadah kepada-Ku dan baca amalan nisfu Syakban, maka pahalanya lebih besar dari ibadah hamba-Ku ini selama 400 tahun.

Nabi Isa akhirnya berdoa; Mudah-mudahan aku termasuk golongan umat Muhammad sallallahu alaihi wa sallam. Editor : Rojiful Mamduh
#masjid polres jombang #Binrohtal