Di Pasar Pon Jombang misalnya, pedagang hanya mempunyai sedikit stok untuk dijual kembali. Harga jual ini masih di atas HET yang sudah ditetapkan pemerintah. Migor kemasan dijual 16.000 perliter dan migor curah dijual dengan harga Rp 15.000 perliter.
Iwan salah satu pedagang di Pasar Pon membenarkan bila ketersediaan migor, khususnya kemasan masih sedikit dan pengiriman belum stabil. ”Ini saja baru dikirim Minggu (28/1) kemarin,” ujarnya saat ditemui di tokonya, kemarin.
Dia menyebut, saat ini pengambilan migor juga dibatasi. Dalam sekali ambil, ia hanya mendapat jatah 30 dus migor kemasan 1 liter. ”Satu dus berisi 12. Kalau migor kemasan 2 liter sudah lama tidak dapat,” katanya.
Untuk harga jual, dia sendiri menjual dengan harga kisaran Rp 15 ribu sampai Rp 16 ribu per liter. ”Kalau dijual dengan harga Rp 14 ribu ya tidak mendapat untung, karena mencarinya juga susah,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Amir pedagang sembako lain. Setelah dikirim distributor beberapa hari lalu, sampai sekarang belum ada pengiriman. Sehingga stok juga sudah mulai habis. ”Minyak masih diburu pembeli, ini stok tinggal sedikit,” beber dia.
Semenjak migor sulit dicari, dirinya mengaku tidak bisa mengambil banyak dari distributor. Paling banyak hanya bisa mengambil migor 30 dus. ”Ya katanya dijatah biar semua kebagian. Kayaknya semua dapat jatah sama 30 dus kemasan 1 liter,” terangnya.
Saat ditanya harganya, ia sendiri menjual di atas HET yang sudah ditentukan pemerintah. ”Kalau saya jual harga Rp 16 ribu per liter,” ungkapnya. Meski begitu, migor kemasan 1 liter ini tetap dicari pembeli. Terlebih, harga migor curah juga masih tinggi. ”Minyak goreng curah biasanya dijual dengan harga Rp 14.500 sampai Rp 15 ribu per liter,” tegas dia.
Sementara itu, Hari Oetomo Kepala Disdagrin Jombang mengaku butuh pengawasan lebih pada saat distribusi migor. Pengawasan ini karena saat pihak distributor dihadirkan beberapa waktu lalu, disampaikan jika ketersediaan migor masih cukup. ”Tapi memang harus ada pengawasan distribusi,” jelasnya.
Untuk itu pihaknya akan terus berkoordinasi dengan tim pengendali inflansi daerah (TPID) terkait masih minimnya stok di pasar tradisional. Termasuk berusaha memastikan tidak ada penimbunan minyak goreng. ”Makanya nanti kita akan cek bersama,” katanya.
Terkait harga minyak goreng yang dijual di pasar tradisonal, ia memastikan hal tersebut tidak diperbolehkan karena harga sudah ditetapkan pemerintah. ”Kan sudah ditetapkan untuk minyak curah Rp 11.500 per liter, migor kemasan biasa Rp 13.500 dan premium Rp 14 ribu per liter,” pungkas Hari. Editor : Rojiful Mamduh