”Guru SMPN Satu Atap Jipurapah yang PNS hanya tiga, sisanya GTT (guru tidak tetap) dan pembina mulok (muatan lokal),” kata Gatot Sugiharto, kepala SMPN Satu Atap Jipurapah, kemarin.
SMPN Satu Atap Jipurapah memiliki 50 siswa dengan tiga rombongan belajar. Satu rombel kelas tujuh, satu kelas delapan dan satu kelas sembilan. Guru yang bertugas hanya 12. Tiga berstatus PNS, dua guru mulok, dan tujuh lainnya GTT.
’’Jumlah itu sangat kurang,’’ ujar Gatot. Banyak guru yang harus mengajar lebih dari satu mapel untuk menutupi kekurangan. Belum lagi tahun ini SMPN Satu Atap Jipurapah harus ditinggalkan empat GTT yang lolos seleksi PPPK.
”GTT yang ngajar disini juga banyak yang mengampu di sekolah lain,” ungkap Gatot.
Sementara itu, Karyono, kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang mengaku sudah beberapa kali berkoordinasi dengan kepala SMPN Satu Atap Jipurapah mengenai kekurangan tenaga pendidik. Solusi yang paling mungkin dilakukan, meminta GTT yang lolos PPPK, tetap membantu mengajar disitu selama beberapa hari.
”Untuk sementara ya harus merangkap dulu, karena sulit untuk cari pengganti. Medan untuk ke sana tidak mudah, jadi jarang ada yang bersedia,” urai Karyono.
GTT yang lolos PPPK tetap mengajar di sekolah induk tempatnya ditugaskan. Namun juga mengisi kekurangan di SMPN Satu Atap. ’’Aturannya membolehkan PPPK mengajar di dua tempat, dengan catatan tidak meninggalkan sekolah induk,’’ jelasnya.
Solusi lainnya, mencarikan guru pengganti yang statusnya masih GTT tapi sudah terdaftar di data pokok pendidik (dapodik). ”Serba sulit, karena harus ditinggal empat guru sekaligus yang notabenenya sudah sangat mumpuni mengajar di sana,” tambahnya.
Untuk mengatasi kekurangan, ia juga meminta kepala sekolah ikut mengajar. ”Kan tidak apa-apa untuk mengatasi kekurangan, kepala sekolah mengajar 6-12 jam untuk menutupi kekurangan,” bebernya.
Solusi terbaik untuk mengatasi kekurangan guru wilayah pedalaman adalah dengan membangun perumahan atau tempat tinggal yang layak. ”Cari guru yang masih muda, disediakan tempat tinggal yang layak. Kalau harus pulang pergi memang sulit,” tandasnya. Editor : Rojiful Mamduh