Juara tidak muncul tiba-tiba. Tak ada prestasi yang bisa diraih secara instan. Karena itu karateka tak boleh menyerah jika kalah pada laga pertama. ’’Kalah seribu kali, bangkit 1.001 kali,’’ pesan Ketua Harian Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (Forki) Jombang, Kwat Prayitno,61, kemarin.
Saat kita kalah dalam kejuaraan, sebenarnya kita tidak benar-benar kalah. Itu jika kita masih semangat bangkit untuk memperbaiki prestasi. ’’Setiap hasil pertandingan harus dijadikan evaluasi,’’ kata anggota dewan guru Inkanas nasional ini.
Kita baru benar-benar kalah jika menyerah. ’’Jika kita menyerah, putus asa dan tidak mau bangkit memperbaiki prestasi, pada saat itulah kita benar-benar kalah,’’ ujar pemegang sabuk hitam karate Dan VII ini.
Pria yang telah 51 tahun menggeluti karate ini menyatakan, seorang karateka baru bisa turun dalam kejuaraan setelah dua tahun latihan. Ini untuk mematangkan skill dan teknik. Sekaligus mematangkan mental.
Sebelum dan setelah latihan, karateka selalu mengucapkan lima sumpah karate (dojo kun). Yakni sanggup memelihara kepribadian. Sanggup patuh pada kejujuran. Sanggup mempertinggi prestasi. Sanggup menjaga sopan santun. Serta sanggup menguasai diri.
Setelah dua tahun terus menerus mengucapkan janji sanggup mempertinggi prestasi, diharapkan itu sudah mendarah daging. Sehingga jiwa karateka menjadi tangguh. ’’Ketika kalah dalam suatu kejuaraan, tidak putus asa, namun justru bangkit semangat latihannya untuk meningkatkan prestasi,’’ tegas alumnus S2 Unibraw Malang yang kini dosen STKIP PGRI Jombang.
Pengurus PMI Jombang yang telah donor darah 125 kali ini menyatakan, semangat mengukir prestasi dan bangkit dari kekalahan ini sangat penting dalam kehidupan. Karena dalam kehidupan, kita pasti pernah merasakan kekalahan atau kegagalan.
’’Orang sukses bukanlah yang tidak pernah gagal atau kalah. Orang sukses adalah orang yang selalu bisa bangkit dari kegagalan dan kekalahan,’’ paparnya.
Adhe Rengga Drestian, karateka Jombang yang meraih perunggu PON 2008, juga tidak langsung juara pada kejuaraan pertamanya. ’’Saya ikut kejuaraan beberapa kali baru juara,’’ ujarnya.
Editor : Rojiful Mamduh