Berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, sukses kemudian. Ini lah peribahasa yang menggambarkan seorang Ma’arif, Dusun Tambakberas, Desa Tambakrejo, Kecamatan Jombang sukses merintis usaha kerajinan rotan.
Di sebuah halaman rumah di Dusun Tambakberas ini, terlihat seorang pria sibuk menganyam rotan menjadi sejumlah kerajinan antik. Mulai hantaran, piring, keranjang, rak televisi hingga aneka produk kerajinan lainnya.
Ma’arif, sudah 10 tahun terakhir menekuni bisnis ini. ”Sebelumnya saya kerja ikut orang, juga buat kerajinan dari rotan, akhirnya merintis sendiri,” terangnya.
Ma’arif mengatakan, proses pembuatan kerajinan rotan cukup mudah. Asal mau belajar pasti bisa. Untuk pembuatannya sendiri membutuhkan tahapan. Mulai dari persiapan bahan, penentuan ide, pembuatan kerangka, penganyaman dan finishing.
Prosesnya, dimulai dari mendapatkan bahan baku. Ma’arif, menyebut biasa mendatangkan rotan dari wilayah Gresik. Begitu sampai di rumahnya, rotan kering siap produksi ini, harus terlebih dulu dipilahnya untuk kemudian diberi warna. ”Karena nanti berkaitan sama bentuknya, ada yang suka warna asli ada yang harus diwarnai, sampai kering dulu,” lanjutnya.
Setelah bahan dan alat siap, dia pun menentukan ide jenis produk yang akan dibuat. ”Kalau produk saya ada tempat souvenir, hantaran, vas bunga, cermin aesthetic, hingga rak buku dan meja televisi, tergantung pesanan,” bebernya.
Untuk produknya dia kerjakan sendiri. Semakin rumit bentuknya, proses pembuatannya semakin lama. ”Per harinya tidak pasti, makin rumit bentuknya ya makin lama membuatnya. Misal kalau bikin hantaran yang bentuknya standar, ya bisa 50 biji sehari semalam, beda lagi kalau rak TV,” lanjutnya.
Hal itu, lantaran material penyusunnya juga harus dibedakan. Ma’arif menjelaskan, untuk membuat hantaran, atau vas bunga biasanya ia membuat dengan ukuran rotan yang kecil. ”Atau biasa disebut pitrit,” imbuhnya. Berbeda dengan pembuatan kerajinan seperti rak buku atau televisi ia membuat rotan yang lebih besar.
Produknya ini, juga sudah memiliki pasar tersendiri. Ma’arif mengaku, biasa menjual produknya ini ke sejumlah pasar di Jombang juga luar Jombang. Beberapa pesanan, bahkan datang dari luar Pulau Jawa.
Harganya pun beragam. Produknya yang paling murah ialah piring rotan kecil Rp 3 ribu, sedangkan untuk pot tinggi Rp 60-70 ribu, cermin aesthetic Rp 120-130 ribu. ”Kalau untuk meja TV empat susun bisa sampai Rp 200 ribu,” pungkasnya.
Harus Terus Inovatif
SEBELUM menjadi perajin rotan mandiri, Ma’arif sempat beberapa tahun bekerja di bidang yang sama, namun sebagai karyawan. Hingga dirinya memutuskan merintis usaha mandiri.
”Dulu saya belajarnya ikut orang. Terus sudah mulai bisa, sekitar 2012 saya niatkan merintis sendiri,”terangnya.
Awal merintis usaha, Ma’arif hanya memiliki modal pas-pasan. Karenanya, di awal, dia hanya mampu membuat produk dalam jumlah kecil. ”Awal merintis hanya buat piring dan keranjang saja, karena modal terbatas sekali waktu itu,” ungkapnya.
Seiring berjalannya waktu, produknya mulai dilirik pembeli. Perlahan usahanya kian berkembang. Dia pun semakin bersemangat. ”Tapi terus mulai ada saingan lagi, muncul produk mirip dari bahan plastik, harganya juga lebih murah,” lanjutnya.
Sejak itu, ia pun berusaha keras memutar otaknya agar kerajinan rotannya tetap laku dan diminati pelanggan. Idenya pun berkembang, Ma’arif mulai memproduksi kerajinan lain dan menyesuaikan model dan pewarnaan.
Hasilnya cukup efektif, dengan kerativitas, ia kini mampu membentuk rotan menjadi barang kerajinan yang lebih unik. ”Sekarang saya melayani berbagai macam permintaan mulai dari mobil-mobilan atau hantaran dari rotan yang dipakai untuk acara lamaran, jadi pemesan kan bisa memilih,” pungkasnya.
Editor : Rojiful Mamduh