KECAMATAN Wonosalam yang terletak di lereng Gunung Anjasmara memiliki potensi tersembunyi yang layak dikembangkan. Misalnya budi daya kambing kontes jenis peranakan etawa (PE) ras Kaligesing yang kini mulai dilirik peternak setempat.
Kambing hasil persilangan kambing Etawa (India) dengan kambing lokal, yakni kambing Jawa Randu atau Kacang asal Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo ini memiliki ciri tinggi badan yang tinggi, besar dan panjang.
Salah satunya ditekuni Ketut Suseno Putro, warga Dusun Ganten, Desa Wonomerto, Kecamatan Wonosalam. Sejak 2013, ia sudah mulai membudidayakan kambing etawa ras Kaligesing.
Awalnya Ketut hanya membudidayakan kambing pedaging. Dalam perjalanannya dia mengetahui prospek budi daya kambing kontes lebih menjanjikan. ”Karena harga jual kambing kontes lebih mahal,” bebernya.
Sejak saat itu, ia memutuskan mulai belajar membudidayakan kambing peranakan etawa ras Kaligesing ini. ”Sampai sekarang ketagihan budi daya kambing kontes,” ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang, Rabu kemarin (8/12).
Kambing kontes memang perlu perawatan khusus. Pemilik harus siap merogoh kocek cukup dalam dalam untuk membiayai kebutuhan perawatan kambing. Mulai dari penanganan, kebutuhan pakan serta kebutuhan lainnya. ”Untuk pakan harus dipilah dengan baik. Jika ada serangga yang ada di makanan akan berdampak buruk,” bebernya.
Selain itu, peternak juga harus merogoh kocek untuk kebutuhan membeli susu dan suplemen lainnya. ”Karena kambing kontes wajib minum susu kambing PE segar. Belum lain-lain seperti suplemen, vitamin dan sampo untuk memandikan kambing,” tambahnya.
Ketut menaksir, kebutuhan perawatan untuk satu ekor kambing kontes mencapai sekitar Rp 1 juta/bulan. Ya, menurutnya harga itu masih lumrah mengingat harga jual kambing kontes yang mahal. ”Ya rata-rata segitu untuk dewasa usia sekitar tiga tahun,” terangnya.
Dijelaskan, kontes kambing dikelompokkan dalam beberapa kelas. Misalnya kelas E adalah kelas yang memiliki kategori tinggi badan untuk betina maksimal 60 sentimeter dan jantan 65 sentimeter.
Untuk kelas D betina, kambing harus memiliki tinggi maksimal 70 sentimeter dan jantan 80 sentimeter. Sedangkan untuk kelas C adalah belum mengalami lepas gigi susu alias belum poel dengan tinggi di atas 80 sentimeter.
Untuk usia B sudah mengalami lepas gigi susu dan berganti gigi tetap alias sudah poel satu pasang dan usia minimal tiga tahun. Sedangkan untuk kelas A sudah poel tiga pasang gigi dan usia lebih dari tiga tahun. ”Saat ini saya ada empat ekor kambing yang siap ikut kontes,” terangnya.
Diakui, sejak ramainya kegiatan kontes kambing, harga jual kambing kontes semakin mahal. Hal itu pula yang menjadikan peternak kambing mulai banyak tertarik budi daya kambing kontes. ”Potensi penjualan justru lagi tren. Banyak peternak beralih dari kambing pedaging ke kambing kontes. Potensi kambing kontes luar biasa,” pungkasnya.
Editor : Rojiful Mamduh