Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Cerita Sukses Riamin Menggeluti Budi Daya Lele

Rojiful Mamduh • Sabtu, 27 November 2021 | 15:25 WIB
Cerita Sukses Riamin Menggeluti Budi Daya Lele
Cerita Sukses Riamin Menggeluti Budi Daya Lele


SUARA gemericik air saling bersahutan. Seorang pria paruh baya tengah sibuk meneteng sebuah timba plastik warna hitam di pinggir kolam. Sesekali tanganya merogoh isi timba dan melemparnya ke permukaan kolam.



Seketika ribuan ekor ikan lele muncul ke permukaan kolam. Masing-masing saling berebut satu dengan yang lain untuk melahap pakan yang ditebar. Sosok pria itu tak lain adalah Riamin, 50, warga Desa Brambang, Kecamatan Diwek.



Bapak satu anak ini sangat ramah saat Jawa Pos Radar Jombang mampir ke kolamnya. ”Ini waktunya ngasih pakan lele,” terang Riamin.



Sambil melanjutkan memberi makan ikan di sejumlah kolamnya, Riamin menceritakan sebelumnya dia hanya merupakan penjual lele eceran. ”Saya lama jualan lele, sejak 1996,” ungkapnya.



Setiap harinya, dia mengambil lele dari salah satu peternak lele. Lambat laun dirinya menyadari keuntungan menjadi peternak lele sangat besar. Dari situ dia mulai berfikir untuk mencoba peruntungan budi daya lele sendiri. ”Saya mulai ngitung-ngitung, nabung,” bebernya.



Singkatnya, pada 2010 dia punya sedikit celengan untuk memulai budi daya lele. Bermodalkan uang sekitar Rp 2,5 juta, dia pun mulai membangun empat kolam. Tiga kolam berukuran 4x8 meter persegi dan satu kolam berukuran 3x3 meter persegi.



Setelah pembangunan kolam selesai, diawal Riamin membeli sebanyak 5.000 bibit. ”Waktu itu dapat harga Rp 50.000 untuk 1.000 bibit lele dengan ukuran 3 sentimeter,” bebernya.



Kesehariannya yang akrab dengan dengan lele serta pengalamannya setiap hari melihat budi daya lele, Riamin yakin usaha yang dia rintis akan berhasil. ” saya tidak belajar kemana-mana, cuma saya tahu karena setiap hari ambil lele dari peternak jadi secara tidak langsung saya bisa. Terus coba buat kolam sendiri ini,” jelas Raimin sambil menunjukkan kolam-kolamnya



Usaha keras Riamin membuahkan hasil. di tahun pertama, panen ikan lelenya melimpah. Uang hasil penjualan lele dia putar untuk mengembangkan usaha. ”Dari hasil empat kolam pertama saya putar, akhirnya sekarang sampai punya 25 kolam. Dalam 1 kolam diisi 12.000 bibit ikan lele,” bebernya.



Dikatakan perawatan lele gampang-gampang susah. Butuh ketelatenan. Dia harus rajin mengganti air, serta memberi pakan lele. ”Memberi makan dua kali, setiap pagi dan sore,” imbuhnya.



Untuk meminimalisir pengeluaran, Riamin memanfaatkan limbah telur dari pabrik yang tidak lolos untuk pakan lele, selain juga membeli pelet. ”Sudah kerja sama sama Pokphan. Saya beli telurnya 12 timba cat setiap pagi yang beratnya 25 kg” tutur Raimin.



Pelet diberikan setiap sore hari  ”Kalau pelet hanya saya berikan sore. Kalau setiap kasih makan diberi pelet terus ya nggak dapat untung, berat di pakan” tambahnya.



Dari hasil budi daya 25 kolam lelenya, setiap harinya dia bisa memanen kurang lebih mencapai 8 kuintal lele. ”Lele saya kirim ke Ploso dan Mojokerto. Setiap hari juga melayani sekitar enam pengecer,” bebernya.



Lantas bagaimana usaha lelenya menghadapi pandemi, menurut Riamin penjualan lele tetap stabil saat pandemi, meski omzetnya sedikit terjadi penurunan.”Alhamdulilah, harga pasar untuk lele stabil, tapi ada pengurangan jumlah pemesanan karena pandemi,” terang Riamin.



Harga lele cenderung stabil baik di masa pademi maupun sebelum pandemi di kisaran harga Rp 15.500 – Rp 16.000 per kilogram. ”Kalau di Jombang harga lele stabil, tapi kalau di luar Jombang harganya masih turun dengar-dengar,” jelas Raimin.


Selama menggeluti budi daya lele, Riamin mengaku  belum pernah mendapat penyuluhan atau bantuan dari dinas terkait. ”Mungkin karena saya tidak tergabung dalam mitra,” singkat Riamin.


Editor : Rojiful Mamduh
#berita jombang