Sebagai sentra penghasil wajan besi baja, Dusun Murangagung, Desa Kebondalem, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, ternyata sudah masuk generasi ketiga. Bagaimana mempertahankannya?
SEPTIA R-SITI M, Bareng
SEBAGAI sentral penghasil wajan besi baja, lingkungan RT 04/RW 01 masih mempertahankan cara tradisional. Wajan besi baja dikerjakan sampai tiga turunan. “Disini yang paling lama dan Alhamdulillah masih bertahan sampai sekarang, sampai saya generasi ketiga,” ucap Rendy Brian Anthoni mengawali perbincangan dengan koran ini beberapa hari kemarin.
Ia merasa, wajan besi baja anti lengket yang dikerjakan bersama keluarganya harus terus dikembangkan dan punya inovasi lain. Selain wajan besar yang hanya diminta oleh industri rumahan pembuatan kerupuk, kecap atau gula. “Akhirnya saya coba buat wajan besi baja anti lengket” terangnya.
Alumnus D3 Pendidikan di Universitas Negeri Malang ini mengembangkan produk wajan anti lengket skala rumahan dengan kualitas yang tidak kalah. Anti lengket dalam wajan besi baja dia pelajari sendiri dengan metode sesioning (dipanaskan dengan api suhu tinggi) yang dipelajari melalui buku.
“Saya membaca dibuku alat-alat masak kuno yang saya dapatkan di Solo, kalau di Google itu kan rahasia pabrik jadi tidak mungkin disebarkan. Saya praktik pelan-pelan” terangnya. Proses pembuatan wajan anti lengket ini diawali dengan lembaran besi baja yang dipotong manual berbentuk bulat. Kemudian dipande sampai membentuk wajan lalu di-finishing sampai halus, dan dipasang pegangan wajan kanan kiri.
Untuk menghasilkan wajan anti lengket disesioning, ia membakar dengan suhu tinggi dan dioven. Setelah dingin baru dikemas dan siap jual. Warna biru yang dihasilkan juga bukan dari cat, murni karena proses pembakaran. “Dari proses sesioning itu nanti muncul warna alami, jadi kita nggak pakai cat” jelas Rendy.
Dulu, sekitar tahun 1060, ia menceritakan sang kakek sebagai generasi pertama yang notabene seorang pande besi pembuat pisau dan keris. Produksinya dikirim ke Bali. Namun setelah produksi keris menurun akhirnya berpindah produksi wajan besar. Bahkan, produksi wajan masih dilanjutkan sampai sekarang.
Meski begitu, ia mengaku kesulitan bahan besi baja karena pendapatan baja yang sulit, sementara harga besi baja cenderung naik. Sedangkan harga wajan tidak bisa naik saat pasokan barang sulit. “Ya itu kendalanya, bahan susah dicari dan mahal, sementara harga wajan tidak bisa dinaikkan” jelas Rendy.
Selama pandemi ini ia tidak berhenti produksi. Pekerjaan dibuat sistem sift. Hanya saja, omset penjualannya turun hingga 70%. Jika sebelum pandemi bisa membuat antara 40-50 wajan setiap hari. Selama pandemi turun menjadi 10-15 wajani. “Kasihan kalau berhenti produksi karena keterampilan masyarakat sini pandai besi,” tuturnya.
Selama produksi ia tetap mempertahankan cara tradisional dengan mengutamakan kualitas. Hasilnya, ketahanan wajan miliknya tak perlu diragukan. Baik dibanting atau terjatuh pun wajan tidak akan peyok. Untuk itu pihaknya berharap ada penyuluhan dari pemerintah untuk pengembangan industri rumahan.
Apalagi selama ini, ia sering mendengar keluhan dari sesama pengrajin besi baja yang gulung tikar lantaran tidak bisa bertahan. “Semoga pemkab mengadakan seminar atau penyuluhan yang menjadi penyemangat bagi pengrajin besi baja,” pungkasnya.
Editor : Rojiful Mamduh