JOMBANG – Tugu bambu runcing Mojoagung tercatat memiliki dua bentuk lain. Bahkan di era kolonial, sempat berdiri gapura yang dibuat khusus memeriahkan pernikahan salah satu Ratu Belanda.
Dari foto yang didapat Jawa Pos Radar Jombang dari laman Delpher.nl, sebelum didirikan monument bambu runcing, lokasi itu awalnya sebuah pertigaan besar di Mojoagung. Dalam foto bertanggal 7 Januari 1937, tengah dibangun gapura kehormatan sebagai bentuk ucapan selamat atas pernikahan Ratu Belanda Putri Juliana. Pada gapura itu tertulis kalimat Welkom.
Setelah kemerdekaan, sebuah tugu akhirnya dibangun sekitar tahun 1980-an. Pembangunan tugu diprakarsai M Ya’kub, Kepala Desa Gambiran saat itu. Bentuknya berupa lima buah bambu runcing setinggi tujuh meter. Empat bambu runcing berukuran sama yang mengelilingi bambu runcing di tengah paling tinggi.
Lokasi pembangunannya pertama kali juga menempel bahu jalan sisi timur dari simpang empat jalur nasional di Desa Gambiran. “Kalau tugu lama warnanya seperti bambu kuning, dan bentuknya ada tulang bambu,” ucap M Thamrin Bey, salah satu saksi sejarah tugu bambu runcing.
Dari kisah yang ia dapat dari orang tuanya, pembuatan tugu itu tak sekadar dibangun. Pembuatannya dilatari adanya pertempuran yang sempat terjadi di lokasi itu. Saat Agresi Militer Belanda 1949, Mojoagung merupakan titik paling barat pertempuran dan tempat para tentara republik berjuang mempertahankan Kemerdekaan.
“Jadi cerita dari ayah saya, memang tugu itu tugu monumental untuk mengenang perjuangan pahlawan di wilayah Mojoagung,” lanjut putra salah satu Laskar Hizbullah ini. Hingga tahun ini, di era Bupati Jombang Suyanto pernah merobohkan tugu, untuk digantikan dengan tugu UKS. Saat itu Jombang baru saja mendapat penghargaan UKS tingkat nasional.
“Mungkin karena bupati tidak tahu asal usul tugu, sehingga bangunan asli dirobohkan,” tambahnya. Pembangunan sempat menuai protes dari banyak warga Mojoagung, termasuk Thamrin sendiri. Hingga setelah Bupati Nyono Suharti Wihandoko menjabat, wujud tugu dikembalikan ke bentuk awal, bamboo runcing.
Sementara Tugu UKS dipindahkan ke RTH Mojoagung. Meski bentuknya tidak seperti yang lama, namun lokasi pembangunannya sekarang di tengah jalan. “Kalau dulu di pinggir, tapi bagaimanapun tugu itu harus dipertahankan sebagai bentuk penghargaan jasa pahlawan,” pungkas dia.
Editor : Rojiful Mamduh