BAGI Anda pecinta kuliner, mungkin tidak asing dengan bubur sruntul dan bubur kacang ijo Mujiono. Diolah dengan bahan-bahan pilihan, menjadikan bubur sruntul yang kini dilanjutkan generasi pertama ini tetap menjadi idola pecinta bubur.
Untuk mencari lokasi bubur ini cukup mudah. Setiap pagi, stan bubur sruntul ini bisa dijumpai di kawasan pasar Mojoagung. "Kita buka dari jam 08.00 pagi sampai jam 12.00 siang. Paling cepat hanya sampai jam 09.00 pagi, sudah habis jadi harus tutup,” ungkap Zakia, 25, salah satu putri almarhum Mujiono.
Makanan tradisional ini sering kali diburu pembeli saat pagi hari. Wajar saja, selain mengandung protein tinggi, makanan tradisional ini cocok sebagai pangganti sarapan pagi. ”Kalau tidak sempat sarapan, makan bubur sudah lumayan kenyang, harganya juga terjangkau,” terangnya sambil terkekeh.
Di antara bahan dasar bubur mulai dari kacang hijau, sruntul, ketan hitam, santan, dan gula dengan tambahan topping mutiara.
Dikatakan Yafia, memang cukup mudah menemukan penjual bubur sruntul maupun bubur kacang hijau. Namun, salah satu alasan bubur sruntul Mujiono banyak diburu pembeli dari kualitas rasa dan cara memasak hingga penyajian. ”Kalau dilihat memang banyak yang jualan bubur, tapi ya pastinya ada pembedanya, yaitu rasanya,” terangnya.
Yafia mengaku, resep pembuatan bubur sruntul merupakan warisan dari armarhum bapaknya (Mujiono). Dan sampai sekarang terus dipertahankan. ”Agar ini menjadi khas tersendiri dari masing-masing penjual bubur, dari segi pembuatan maupun penyajiannya, dan hal itu lah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi penikmatnya,” imbuhnya.
untuk menikmati bubur, bisa dinikmati dalam kondisi hangat ataupun dingin. Tergantung selera pembeli. ”Mau disantap hangat atau dingin dicampur es juga sama-sama mantap. Tergantung selera,” bebernya.
Hanya memang, dari segi waktu juga menentukan. ”Kalau saya, makan bubur enakan pas pagi hari, rasanya lebih mantap,” imbuhnya.
Yafia menerangkan, pandemi Covid-19 cukup berdampak pada omzet yang dia dapat. Pasalnya, khususnya selama kebijakan PPKM. ”Waktu ramai-ramainya Covid-19 omzet turun banyak, sekarang sudah alhamdulillah mulai stabil,” bebernya.
Editor : Rojiful Mamduh