JOMBANG – Kondisi median jalan nasional di Peterongan hingga Mojoagung, tak seluruhnya menjadi pemisah. Ini setelah keberadaan median jalan itu sepadan dengan jalan utama. Sehingga rawan terjadi kecelakaan lalu lintas.
Di sepanjang Jl Raya Peterongan misalnya, pengaspalan beberapa waktu lalu kini membuat keberadaan jalan aspal lebih tinggi. Termasuk dari arah sebaliknya. Sementara median jalan yang digunakan sebagai pemisah, kini jadi sepadan.
Menurut Yoyok Kristyowahono Plt Kepala UPT Pengelola Prasarana Perhubungan (PPP) Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Mojokerto Dishub Jawa Timur, tak mengelak bila sebagian titik median ruas jalan nasional di Jombang tak sama. ”Ruas jalan mulai Peterongan sampai Mojoagung median jalan yang di tengah itu rata dengan aspal, ada juga yang lebih rendah,” katanya.
Kondisi itu disebutnya sebagai titik buta dan rawan terjadinya kecelakaan lalu lintas. ”Menurut saya itu black spot, sebab ketinggian median minimal 20 sentimeter. Sudah ada aturannya,” imbuh dia.
Ia menjelaskan, keberadaan median diharapkan ketika terjadi kecelakaan lalu lintas, maka tidak sampai berdampak hingga ke arah jalan yang berlawanan arus. ”Misal ada bus yang ngeblong ke kanan, maka tidak sampai masuk ke arah ruas jalan berbeda,” kata Yoyok.
Terpisah, Bayu Pancoro Adi Plt Kepala Dinas PUPR Jombang, melalui M Rakhmat Sunendar Kabid Bina Marga, sebelumnya sudah menyampaikan ke pihak kewenangan jalan nasional. Namun sampai sekarang belum ada tindaklanjut pada median jalan tersebut.
”Kelihatannya kemarin yang disampaikan teman-teman perawatan jalan. Untuk faktor pendukung belum sampai disinggung, karena fokus di jalan utama,” pungkasnya.
Editor : Rojiful Mamduh