JOMBANG – Murahnya harga telur ayam di pasaran membuat peternak ayam telur makin terjepit. Selain harus mengurangi populasi ayam, beberapa di antaranya harus rela menjual sendiri telurnya sampai ke toko.
”Kalau tidak begitu bisa bangkrut mas, karena kondisinya memang sudah sangat berat. Pakan mahal tapi harga jual telurnya murah,” terang Anik Mariyani, 44, peternak ayam Telur di Desa Sukorejo, Kecamatan Perak.
Anik menjelaskan, selama beberapa bulan terakhir, harga pakan ternak untuk ayam petelur sedang meroket. Kenaikannya mencapai dari dua kali lipat dari harga sebelumnya. ”Jagung itu sekarang harganya sudah Rp 5.500 per kilo dari asalnya Rp 2.500 perkilogram, apalagi kalau sudah digiling dan dicampur dedak, harganya bisa Rp 6.500,” ucapnya.
Bebannya kian bertambah, itu setelah harga jual telur di pasaran anjlok. Anik menyebut beberapa bulan terakhir harga telur masih anjlok, bahkan di tingkat tengkulak di kisaran Rp 14 ribu per kilogram. ”Padahal harusnya kalau pakan sudah seharga Rp 6.200, (harga) telur itu harus Rp 19 ribu,” lontarnya.
Untuk menyiasatinya, ia pun harus rela melego separo ayam di kandangnya. Jika biasanya ia mengisi kandang dengan populasi 1.500 ekor ayam, karena harga telur yang anjlok, saat ini hanya diisi separo. ”Sekarang tinggal 500-600-an ekor, karena ya terus rugi ini,” lanjutnya.
Akibat pengurangan ayam, juga mengurangi produktivitas telur. Jika biasanya ia mampu memanen hingga 60 kilogram telur ayam per hari, kini ia hanya mampu memanen 30 sampai 35 kilogram telur per hari.
Ia, juga mengaku kini ogah menjual telurnya ke para tengkulak. Anik menyebut, lebih memilih menjual langsung telur hasil kandang ke toko-toko dan pengecer. ”Karena masih bisa dapat harga Rp 15.500 per kilonya kalau ke toko, jadi ada margin Rp 1.000, lumayan,” imbuh wanita yang sudah sembilan tahun menekuni berternak ayam petelur ini.
Ia berharap, pemerintah bisa memberikan solusi agar harga telur dan pakan dapat kembali seimbang, dan peternak mampu bangkit dan berusaha kembali. ”Karena banyak teman-teman juga yang sampai gulung tikar karena tidak mampu membayar pekerja. Kalau saya untungnya masih dikerjakan sendiri, jadi masih bisa bertahan,” pungkasnya.
Editor : Rojiful Mamduh