Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Mengintip Pementasan Wayang Topeng Jatiduwur Kesamben Jombang

Rojiful Mamduh • Senin, 27 September 2021 | 16:30 WIB
Mengintip Pementasan Wayang Topeng Jatiduwur Kesamben Jombang
Mengintip Pementasan Wayang Topeng Jatiduwur Kesamben Jombang


SETELAH lama tak manggung, wayang topeng Jatiduwur kembali pentas, Sabtu (25/9) malam. Pertunjukan wayang itu, dikemas apik dengan lakon yang sudah jadi pakemnya, Patah Kudanarawangsa. Pentas digelar di sanggar Tri Purwo Budoyo, Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben.




Sejak petang, di pendopo sanggar ini sudah tampak gamelan yang ditata rapi. Sejumlah lampu sorot dipasang. Pukul 19.30, alat musik mulai ditabuh. Warga berkumpul dan pertunjukan pun dimulai. Pertunjukan wayang topeng Jatiduwur dimulai dengan tarian khasnya, yakni Tari Klono.



Tarian ini, adalah tarian pembuka sebelum lakon utama dimainkan. Seorang penari tampak keluar dari belakang panggung dengan menggunakan topeng Klono. Topeng paling mistis dari 33 topeng wayang ini. Dengan indah, tarian tersaji diiringi alunan musik gamelan. Khas alunan musik untuk wayang topeng. Sekitar 15 menit, tarian ini pun selesai.



Berakhirnya tarian pembuka, berarti dimulainya pertunjukan yang sesungguhnya. Konsep yang diusung yakni cerita panji. Dalam Patah Kudanarawangsa, seting yang diambil adalah saat Raja Jenggala, Inu Kertapati atau Panji Asmara Bangun dan Dewi Sekartaji atau Galuh Candra Kirana telah menikah. Namun, godaan kisah asmara mereka tak berhenti. Beberapa raja jahat dari kerajaan seberang, berusaha merebut Sekartaji dari Inu Kertapati karena tergoda dengan kecantikannya.



Sadar dirinya jadi rebutan dan berpotensi merusak tata negara Jenggala, Sekartaji pun menghilang dari kerajaan. Ia menemui seorang pertapa di tengah hutan hingga diubah menjadi seorang ksatria bernama Patah Kuda Narawangsa.



Dengan kesaktiannya, Patah Kuda Narawangsa membabat habis raja-raja jahat dan utusannya yang mencoba merebutnya dari Inu Kertapati. Hingga akhirnya kembali berbahagia bersama pasangan abadinya itu. Ditunjukkan dengan pose Inu Kertapati dan Sekartaji yang sudah bahagia bersama.



Meski ceritanya sederhana, pertunjukan ini sangat memukau penonton. Tarian yang halus dan alunan musik yang rancak, membuat penonton terpaku dan fokus pada pertunjukan. Seluruh adegan pertempuran pun dipragakan dengan sangat halus dan indah, jauh dari kesan kasar.


 Dalam wayang ini, seluruh pertempuran ditunjukkan dengan bentuk tarian yang luwes dan indah. Pertunjukan ini, berlangsung selama dua jam penuh. Diakhiri dengan prosesi kupat luar.


Editor : Rojiful Mamduh
#berita jombang