MEMBUAT buket bunga bisa melatih kreativitas serta mengasah keterampilan. Saat ini kerajinan buket banyak dilirik masyarakat. Sebagian banyak memilih buket bunga sebagai hadiah pada momen-momen spesial. Ini menjadikan perajin buket semakin bersemangat. Salah satunya Rif'ah Indri Widyastuti.
Dia pun banyak menciptakan beragam buket, mulai buket bunga, balon, snack, termasuk ragam lainnya. ”Karena sekarang sedang musim buket snack, jadi saya bikin ini saja, kebetulan bisa juga,” ungkap Rif’ah, salah satu warga Desa Kepanjen, Kecamatan/Kabupaten Jombang.
Berkat keterampilannya membuat buket, Rif’ah bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah hanya dari rumah. Belakangan yang sering ia buket bunga, buket snack juga buket balon. Hampir setiap hari ia banjir order, bahkan stok beberapa buket untuk berjaga-jaga jika ada pesanan mendadak, ludes dalam hitungan hari.
Ia memang kreatif, ia mengkrasikan snack yang harganya hanya Rp 500 bisa jadi buket yang cantik. Dengan modal tusuk sate, lem tembak, pita, bunga plastik, spons bunga dan kertas, semua jadi bagus dan berdaya jual tinggi. ”Ya tidak semua harga jajannya Rp 500, sesuai permintaan dan budget pemesan saja,” katanya.
Masing-masing snack ditempelkan menggunakan tusuk sate, kemudian ia tancapkan ke spons kering, ditambah dengan bunga palsu untuk hiasan bagian tengah. Baru kemudian disempurnakan dengan kertas buket dan pita.
Karena favoritnya ialah warna merah muda, ia lebih sering cari bahan yang bernuansa pink. Mulai dari bunga, kertas buket, juga bungkus jajan warnanya harus serasi agar tampak cantik. ”Sesuai dengan permintaan customer biasanya, tapi karena saya suka pink, mereka kadang terbawa, karena contoh hasil yang warna pink sampai saat ini masih menjadi warna favorit banyak orang, tapi mau warna yang lain juga boleh,” jelasnya.
Ia tak ingin karyanya hanya dipandang sebelah mata dan disamakan dengan produk buket ecek-ecek lainnya. Ia berani mematok harga yang lebih tinggi dibandingkan yang lain, dengan kualitas yang lebih memuaskan. Nyatanya, pelanggan betah dan tak berpindah kepada yang menjanjikan harga murah namun dengan kualitas seadanya.
Seperti buket balon misalnya, jika banyak yang menjual dengan menggunakan alas kardus bekas yang dimodifikasi dengan kertas kado. Rif’ah memilih menggunakan keranjang plastik yang bisa dipakai kembali ketika balon sudah kempes. Harganya selisih 10-20 ribu. Namun manfaatnya lebih besar. ”Daripada pakai kardus yang kalau jajannya sudah habis, balonnya sudah kempes tidak bisa dipakai lagi, kan lebih baik yang ada nilai gunanya,” jelasnya.
Ia menggunakan balon PVC, yang di dalamnya diisi dengan balon biasa berwarna metalik. Proses rangkainya sama seperti buket bunga atau buket jajan. Dengan menambahkan jajan-jajan yang ditancapkan dalam spons kering.
Ia juga menerima jasa buket uang yang kini sedang booming. Uang baru ia masukkan pastik, satu per satu ia beri tusuk sate untuk ditancapkan ke spons kering, kemudian ditambah keras buket di bagian belakang, dan ditambah pemanis bunga plastik di bagian tengah.
Untuk jasa hias buket uang, ongkosnya minimal Rp 50 ribu, karena bahan yang dipakai cukup banyak. Namun menyesuaikan juga dengan jumlah uang yang dipakai. ”Karena bahannya dari kertas jadi ngembang, tapi banyak customer mengatakan harga di saya termasuk murah, tidak tahu kalau di luaran sana,” katanya.
Sedangkan untuk buket jajan, harga minimal Rp 10 ribu, itu biasanya dipakai untuk ulang tahun, untuk harga standar Rp 50 ribu. ”Itu sudah dapat buket jajan semuanya lengkap, kalau mau nambah juga boleh, buket balon beda lagi harganya, menyesuaikan budget customer,” pungkasnya.
Editor : M Nasikhuddin