SELAIN dikenal keindahannya sejak dulu, Kedung Cinet menjadi saksi berkembangnya perkebunan sejak era colonial Belanda. Jejak yang masih tersisa adalah jalur lori yang kini masih dipakai sebagai jembatan.
Sebuah foto koleksi Leiden University di laman https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/ menunjukkan, aktivitas orang Belanda di atas jembatan Klitih ini. Dalam foto berjudul Excursie der Natuur Historische Vereeniging naar Djombang in Oost-Java (wisata alam masyarakat sejarah ke Djombang Jawa Timur) ini terlihat beberapa orang tengah berdiri di atas jembatan rel.
Dalam foto itu dijelaskan jika pengambilan sekitar tahun 1930 silam. Dalam keterangan foto, dijelaskan pula objek foto adalah Het gezelschap op de lorriespoorbaan bij Ploso atau perusahaan di jalur lori Ploso.
“Foto itu memang mengindikasikan lokasinya diambil di jembatan lori Kedung Cinet. Sekilas memang bentuknya mirip, dan hingga kini tidak banyak perubahan,” terang Siti Roaini Kepala Desa Klitih kepada koran ini.
Ia menjelaskan, jalur lori memang sudah ada sejak jaman kolonial. Tak hanya di dekat Kedung Cinet, jalur lori itu terus memanjang hingga ke arah Desa Jipurapah, hingga Dusun Kedungdendeng. “Kalau rel itu baliknya ke Nganjuk, karena arahnya ke Sendang Gogor Nganjuk, jadi Klitih malah ujungnya,” lanjut dia.
Dijelaskannya, jalur lori dulu dipakai untuk mengangkut sejumlah hasil panen dari perkebunan yang dikelola pemerintah kolonial Belanda. Seperti kayu, kopi hingga hasil hutan lainnya. Sayang, jalur ini sudah tak dipakai lagi setelah kemerdekaan.
“Saya tidak tahu mulai kapan berhenti beroperasi, karena sejak saya lahir 1981, jalur itu sudah tidak dipakai. Bahkan bekas rel sudah banyak yang hilang, kecuali yang menjadi jembatan,” pungkasnya.
Editor : Rojiful Mamduh