Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Merah Berani, Emas Mulia

Rojiful Mamduh • Jumat, 17 September 2021 | 15:25 WIB
Merah Berani, Emas Mulia
Merah Berani, Emas Mulia


Klenteng Boo Hway Bio yang terletak di taman Mojoagung, merupakan klenteng termuda di Jombang. Berdiri 1965 silam, klenteng ini dulu adalah rumah abu para leluhur.



”Jadi rumah abu tidak ada catatan resminya sejak tahun berapa, mungkin jauh lebih lama sejak 1800-an juga bisa,” ungkap Hartono Tanojo mantan pengurus Klenteng Boo Hway Bio Mojoagung seksi agama Konghucu.



Menurutnya, abu leluhur yang tidak dipelihara keluarganya dilebur di rumah abu Mojoagung. Abu itu kemudian diberi nama sian sien kong  yang artinya leluhur yang baik hatinya. Rencana untuk mengubah fungsi rumah abu menjadi rumah ibadah, sebenarnya dilakukan sejak 1950, tepat lima tahun sejak Indonesia merdeka.



Hanya baru diresmikan 1965, bersamaan dengan salah seorang warga Ploso yang memiliki klenteng pribadi di rumah, berniat untuk menyumbangkan patung dewa ke rumah abu Mojoagung. ”Kita mulai bangun-bangun dan mendirikan pondasi sejak 1950-an,” kenangnya. Total ada lima patung dewa yang disumbangkan ke Klenteng Mojoagung.



Setelah itu, baru Klenteng Mojoagung beralih fungsi sebagai rumah ibadah. Bukan lagi persinggahan jenazah leluhur. Karena fungsi sudah berubah, tempat persemayaman jenazah harus dipindahkan. Karena klenteng membawa aura positif, sementara jenazah membawa aura negatif.



”Masih tetap di Mojoagung, di sebelah toko Sinar Kasih yang dulunya bekas sekolah Tionghoa, sampai sekarang di sana,” jelas Hartono. Karena tak ingin menghilangkan sejarah, abu leluhur diletakkan di bagian paling tengah. Kanan dan kiri diberi patung dewa. ”Tengah dipertahankan abu leluhur, karena itu bagian dari sejarah,” jelasnya lagi.



Klenteng Mojoagung tepat berada di belakang Taman Mojoagung. Dari depan, tampak tak begitu besar, tapi memanjang ke belakang dan cukup luas. Di depan, ada dua tempat pembakaran abu. Di sisi utara untuk para suci, yang kiri untuk abu para leluhur.



Klenteng Boo Hway Bio ini memiliki tiga lokal tempat ibadah. Di bagian depan, tengah dan belakang lantai dua. Hartono menyebut, klenteng sebagai tempat ibadah tri dharma, yaitu Konghuchu, Budha dan Tao. ”Yang pertama dewa utama, kedua mbah joke go, dan yang ketiga tri nabi, paling belakang di lantai 2,” tegasnya.



Siapapun yang memasuki klenteng akan disambut dengan sumur kehidupan yang tepat berada di tengah. Bentuknya persegi dan sedikit lebih dalam dibandingkan dengan kontur lantai lainnya. Menurut Heri Atmajaya penjaga Klenteng Mojoagung, terdapat empat pipa yang mengelilingi sumur kehidupan. Empat pipa itu berfungsi sebagai tempat pembuangan air. 



Di atas sumur kehidupan itu, lanjutnya, bagian atap tidak diberi penutup seperti genting. Sehingga cahaya tetap bisa masuk ke dalam. Di sisi sumur kehidupan, ada saluran untuk membuang air yang berasal dari dalam klenteng jika hujan deras. “Air dari dalam klenteng, keluar klenteng,” tegasnya.


Dia menjelaskan, selama pandemi tidak ada kegiatan peribadatan. Hanya satu dua orang yang datang untuk sembahyang. Itupun pada momen-momen tertentu, seperti saat perayaan Imlek dan hari keramat lainnya. “Paling satu dua keluarga, terus pulang, datang lagi keluarga yang lain,” pungkas dia.


Editor : Rojiful Mamduh
#berita jombang