Saat ngaji Senin (13/9), Pengasuh Pesantren Hidayatul Quran Tembelang, Ustad Yusuf Hidayat, menjelaskan kebenaran mimpi. ’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam membagi tiga kriteria mimpi,’’ tuturnya.
Pertama, ditakuti setan. yakni mimpi buruk atau menakutkan yang datang dari setan dan membuat sedih. Ini tak perlu diceritakan apalagi ditafsirkan. Seorang lelaki bertanya kepada Nabi SAW tentang mimpinya semalam. Ya Rasulullah, aku bermimpi kemarin seakan-akan kepalaku dipenggal, bagaimana itu? Rasulullah SAW pun tertawa, seraya bersabda; Apabila setan mempermainkan salah seorang dari kalian di dalam tidurnya, maka janganlah dia menceritakannya kepada orang lain.
Kedua, bisikan hati. Yakni mimpi yang menggelisahkan seseorang ketika terjaga dan terus terbawa dalam mimpinya. Mimpi buruk yang selalu teringat bisa jadi pertanda keburukan. Maka hendaklah si pemimpi tidak menceritakannya kepada orang lain.
Ketiga, kabar gembira dari Allah. Yakni mimpi yang menjadi isyarat kenabian. Ini mengindikasikan kebenaran. Mimpi yang baik dan menggembirakan inilah yang patut diceritakan dan dimintakan takwil kepada orang saleh. Imam Malik memesankan, tidak seluruh mimpi patut diceritakan. Hanya mimpi yang baik saja yang patut untuk diceritakan.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik-baik saja atau diam. Demikian juga dalam hal menceritakan mimpi. Hendaklah mimpi yang diceritakan hanya mimpi yang baik-baik saja.
Sebelum masuk Islam, Abu Bakar Shiddiq pernah mimpi di Syam. Ia melihat matahari dan bulan tiba-tiba berada di atas pangkuannya. Lalu ia mengambil keduanya dengan tangan, mendekap keduanya di dadanya. Lalu mengikat keduanya dengan serbannya. Ketika terbangun, ia bergegas pergi mendatangi seorang pendeta Nasrani guna menanyakan maknanya.
Pendeta berkata; Akan muncul di zamanmu seorang lelaki bermarga Hasyim yang bernama Muhammad al-Amin. Orang ini keturunan suku Hasyim dan akan menjadi nabi akhir zaman. Kalau nabi ini tidak ada, niscaya Allah pun tidak akan pernah menciptakan langit, bumi, dan seluruh isinya. Tanpanya, Allah juga tidak akan pernah menciptakan Adam, para nabi dan para rasul. Dia itu pemimpin para nabi dan rasul serta penutup seluruh nabi. Dan Anda akan memeluk Islam yang dibawanya, lalu menjadi wakilnya dan khalifah penerus kepemimpinannya. Inilah makna mimpimu itu.
Pendeta itu menambahkan; Aku mendapatkan ciri-ciri dan sifat-sifatnya itu telah tertera dalam Kitab Taurat, Injil, dan Zabur. Aku sendiri sudah berislam mengikutinya. Namun, aku sengaja menyembunyikan keislamanku ini karena aku takut kepada orang-orang Nasrani yang lain.
Sejak mendengar penjelasan pendeta tentang sifat sifat Nabi Muhammad itu, hati Abu Bakar pun luluh dan merasakan kerinduan mendalam untuk segera mendatangi Rasulullah.
Setibanya di Makkah, Abu Bakar langsung mencari Rasulullah dan akhirnya bertemu. Abu Bakar cinta terhadap Nabi dan tidak bisa melewatkan waktu sedikit pun tanpa bertemu dengannya. Suatu
hari Rasulullah bertanya kepada Abu Bakar; Wahai Abu Bakar, setiap hari engkau datang kepadaku dan duduk bersamaku, tapi kenapa engkau tak kunjung masuk Islam?
Abu Bakar menjawab; Jika engkau memang seorang nabi, tentunya engkau memiliki sebuah mukjizat. ’’Apakah belum cukup bagimu mukjizat yang engkau lihat dalam mimpimu ketika berada di negeri Syam. Dan mimpimu itu sudah ditafsirkan oleh seorang pendeta Nasrani yang juga sudah menyatakan keislamannya?’’ tanya Rasulullah.
Mendengar jawaban itu, Abu Bakar langsung berkata; Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah.
Editor : Rojiful Mamduh