Pengasuh PP Darul Ulum Rejoso sekaligus Ketua MUI Jombang, KH Cholil Dahlan, mengingatkan pentingnya rida terhadap semua takdir Allah subhanahu wa taala. Termasuk ketika ditakdir sakit. Sebagaimana pesan yang disampaikan Syekh Abdul Qodir Aljilani di madrasahnya pada Jumat pagi 8 Syawal 545H. ’’Wahai orang yang sakit, jangan arep-arep sehat karena bisa jadi sehat itu justru menjadi sebab kerusakanmu,’’ tuturnya.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam menganjurkan kita banyak berdoa; Allahumma inni as’alukal afwa wal afiyata wal muafata fiddunnya wal akhirah. Ya Alllah hapuslah dosa kami, berilah kami sehat dan kesehatan di dunia dan akhirat.
Itu bukan berarti memerintah Allah agar kita tak diberi sakit. Namun agar kita bisa menyadari, sehat maupun sakit, sama-sama takdir Allah yang harus kita terima dengan rida. ’’Bahkan kita harus bersyukur diberi sakit. Karena sakit itu hadiah dari Allah subhanahu wa taala,’’ bebernya.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Allah mengambil empat hal dari orang sakit. Pertama, keceriaan wajahnya. Kedua, kekuatannya. Ketiga, kenikmatannya makan minum. Keempat, dosa-dosanya. Ketika orang itu sembuh, Allah mengembalikan yang pertama hingga ketiga. Namun tidak mengembalikan dosa-dosanya. Sehingga sakit merupakan salah satu sarana menghapus dosa.
Orang yang sakit juga tetap diberi pahala amalan sunahnya. Walaupun dia tidak mengerjakan karena sakit. Misalnya kita biasa puasa Senin dan Kamis. Karena sedang sakit, kita tak puasa. Maka tetap diberi pahala seperti puasa.
Tiap hari kita rutin baca Quran satu juz. Karena sakit, kita tak membaca. Namun oleh Allah tetap diberi pahala seperti membaca. Tiap malam kita salat tahajud, salat hajat, salat taubat dan salat tasbih. Karena sedang sakit, kita tak melaksanakannya. Namun oleh Allah kita tetap diganjar seperti melaksanakannya.
Orang sakit yang sabar, ikhlas dan rida, tak hanya akan dihapus dosanya. Namun juga akan diberi kemuliaan dan tambahan karunia. Sebagaimana yang dialami Nabi Ayub. Seperti diabadikan dalam QS Al Anbiya 83.
Dan ingatlah kisah Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya saat mendapat cobaan Allah. Semua harta bendanya lenyap dan semua anak-anaknya mati. Serta badannya sendiri tercabik-cabik oleh penyakit. Semua orang menjauhinya kecuali istrinya. Hal ini dialaminya selama 13 tahun, ada yang mengatakan 17 tahun dan ada pula yang mengatakan 18 tahun. Selama itu, kehidupan Nabi Ayub sangat sulit dan sengsara. Nabi Ayub lantas berdoa pasrah; Rabbi anni massaniyaddurru wa anta arhamur rahimin. Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.
Allah lantas menjawab seperti diabadikan dalam QS Al Anbiya 84. Maka Kamipun mengabulkan doa Ayub. Lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya. Semua anak-anaknya baik yang laki-laki maupun yang perempuan, dihidupkan kembali. Jumlah anaknya dilipatgandakan. Istrinya dibuat menjadi muda lagi.
Nabi Ayub mempunyai dua buah lumbung, yang satu untuk tempat gandum dan yang satu lagi untuk tempat jewawut. Allah mengirimkan dua kelompok awan, yang satu menurunkan hujan emas pada lumbung tempat gandum. Satunya lagi menurunkan hujan perak pada lumbung tempat jewawut. Sehingga kedua lumbung itu penuh dengan emas dan perak. Ini untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. Supaya mereka bersabar, yang karenanya mereka akan mendapatkan pahala.
Kita akan bisa sabar menerima sakit seperti Nabi Ayub jika paham bahwa yang memberi sakit adalah Allah. Kita bisa paham yang memberi sakit adalah Allah jika dalam hati ada Allah.
Inilah sebabnya warga tariqah dibimbing zikir dengan kaifiyah dan haiah tertentu. Agar zikir gampang masuk ke dalam hati. Sehingga gerak hati, ucapan lisan dan perbuatan selalu diwarnai zikir. Alhasil, kita akan bisa selalu sabar, ikhlas dan rida terhadap semua takdir Allah subhanahu wa taala.
Editor : Rojiful Mamduh