JOMBANG – Analisis baru muncul terkait perkembangan Petirtaan Sumberbeji di Desa Kesamben, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang. Muncul dugaan, situs itu tertimbun sebelum kepemimpinan Raja Hayam Wuruk.
“Kalau melihat temuan koin di dalamnya, dari abad ke-11 dari Dinasti Song, tapi memang mayoritas dari Dinasti Yuan dan Ming, atau di abad ke 14-15 masehi,” ungkap Wicaksono Dwi Nugroho arkeolog BPCB Jatim.
Ia menyebut, ada beberapa fakta yang menguatkan dugaan Sumberbeji terpendam saat Majapahit awal. Bahkan, ada dugaan terpendam sebelum raja ke-4 Hayam Wuruk memerintah. Hal itu bisa dilacak pada Kitab Negara Krtagama yang ditulis mPu Prapanca pada 1936. Dalam perjalanan ke Surabana atau yang kini disebut Candi Surowono di barat Wilwatikta pura atau kota raja Majapahit, Hayam Wuruk tak sekalipun melintas ke Sumberbeji.
“Padahal kalau dilihat jalurnya tidak jauh dari Sumberbeji. Harusnya dengan petirtaan sebesar ini Hayam Wuruk akan singgah,” ucap dia. Hal ini dikuatkan dengan kondisi tanah yang menimbun situs petirtaan Sumberbeji. Dari upaya penggalian yang dilakukan, pasir yang menimbun Sumberbeji bentuknya serupa dengan pasir yang menimbun situs di Kediri. Diyakini situs itu tertimbun sejak awal abad 14.
“Material tanah di sini karakteristiknya sama dengan situs Tondowongso Kediri. Dari kajian Geologis, bencana itu ada di tahun 1300-an, sebelum naskah Negara Krtagama ditulis,” lontarnya.
Sehingga ada dugaan, Sumberbeji memang dibangun jauh sebelum Majapahit berdiri, bahkan sejak era Kadiri. Sempat diperbaiki sampai era Majapahit awal. “Tahun 1300-an itu terkubur muntahan Gunung Kelud yang dibawa sungai. Dugaan paling kuat,” pungkas dia.
Editor : Rojiful Mamduh