JOMBANG – Gedung Tenis Indoor Jl Kusuma Bangsa yang rencananya dimanfaatkan sebagai tempat isoter tingkat kabupaten, hingga kemarin (28/8) masih nganggur. Alasannya, Pemkab Jombang masih fokus optimalisasi isoter rumah sehat di tingkat kecamatan.
”Persiapannya sudah tapi pemanfaatannya belum,” kata anggota Bidang Penanganan Satgas Covid-19 Jombang dr Pudji Umbaran kemarin. Menurutnya, persiapan gedung tenis Indoor sebagai isoter kabupaten sudah jalan. Pemanfaatan yang belum dilakukan karena masih memaksimalkan isoter rumah sehat di tingkat kecamatan.
Kepastian pemanfaatan gedung isoter kabupaten itu, lanjutnya, masih menunggu Pemkab Jombang. ”Yang jelas kami hanya diminta menyiapkan. Sedangkan pemanfaatannya dalam rapat terakhir, menunggu maksimalisasi dari rumah sehat kecamatan,’’ tegas Pudji.
Sejak adanya instruksi presiden agar pasien isoman diarahkan ke isoter, ia menyebut tingkat keterisian pasien di rumah sehat jadi bertambah. ”Cukup lumayan walaupun belum 100 persen,’’ tandasnya. Artinya, pemanfaatan isoter kabupaten menunggu keterisian rumah sehat penuh. ”Kalau di kecamatan full baru nanti kita tempati yang kabupaten,’’ tegasnya.
Sebelumnya, Sekda Akhmad Jazuli menyampaikan, persiapan gedung isolasi terpadu tingkat kabupaten sebagai antisipasi jangka panjang jika Covid-19 membeludak. Di gedung tenis indoor disiapkan untuk pasien yang di-ampu Dinkes dan RSUD Jombang. “Sedangkan rumah sehat kecamatan di-ampu puskesmas dan desa, Keamanannya di-back up full teman-teman TNI dan Polri,’’ ujar dia.
Persiapan gedung tenis indoor untuk isolasi terpadu tingkat kabupaten itu lantaran perkembangan Covid-19 tak kunjung mereda. Sekaligus untuk mengantisipasi jika rumah sehat tingkat kecamatan, tidak mampu lagi menampung warga yang isoter. ”Jadi untuk berjaga-jaga jangka panjang,” tambah pengasuh ponpes di Mojokerto ini.
Jazuli menambahkan, hampir setiap hari ia bersama jajaran kepala OPD berkeliling memantau rumah sehat. ”Disana bertemu dengan beberapa warga yang menjalani isoman, saya doakan dari jauhagar mereka segera sembuh dan dapat beraktivitas kembali,’’ pungkas dia.
Dinilai Rawan Dobel Anggaran
SEMENTARA itu, Komisi D DPRD Jombang meminta paparan rencana anggaran belanja (RAB) rumah sehat isoter tingkat kecamatan. Sebab, anggaran isoter sangat rawan dobel dari dua OPD berbeda.
”Setelah melakukan pengecekan ada beberapa yang dobel anggaran,” ujar Mustofa anggota Komisi D, kemarin. Ia lantas menyebut pengadaan vitamin dan makan minum untuk pasien isoter. Dinkes sendiri sudah menganggarkan, tapi di RAB BKAD juga ikut menganggarkan.
”Tentu hal ini harus ada audit. Inspektorat juga harus mengawasi,” katanya. Kalau memang ada dobel anggaran, maka akan menimbulkan persoalan di kemudian hari. Pihaknya tidak ingin, hasil analisis RAB isoter di Kecamatan Diwek juga dilakukan sama di lain kecamatan. Karena memang bisa saja terjadi di semua isoter rumah sehat.
Hal ini terjadi lantaran minimnya sosialisasi dan regulasi yang diberikan pemerintah. “Dengan digunakannya sejumlah anggaran yang bersumber dari keuangan Negara, maka keberadaan Isoter harus diatur dengan regulasi yang jelas. Temuan ini justru hanya berdasarkan SK, bukan Perbup,” terang dia.
Terlebih, dokumen maupun berkas pasien yang menjalani isoter morat-marit. Hal ini menandakan jika kesiapan sumber daya manusia (SDM) masih lemah. Administrasi dokumen serta berkas pendukung dinilainya sangat mengecewakan. Hal ini menandakan jika kesiapan SDM sangat kurang. Ditambah lagi dari awal memang tidak ada sosialisasi, hingga berdampak pada kurangnya pemahaman masyarakat.
Untuk itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan Pansus Covid-19 DPRD Jombang untuk melakukan rapat dengar pendapat (RDP) khusus. ”Hal ini harus cepat disikapi,” pungkas Mustofa.
Editor : Rojiful Mamduh