Mie ayam satu ini bisa menjadi salah satu opsi makanan malam. Warung yang sudah buka lebih dari 20 tahun ini, menyajikan olahan mie ayam yang enak, mengenyangkan namun tetap ramah di kantong.
Lokasi warung ini, berada di kompleks pertokoan simpang tiga Jombang. Menempati pelataran ruko yang tutup, bentuk warung ini juga cukup sederhana. Hanya beberapa meja dan tikar yang digelar di emperan toko. Induknya adalah sebuah rombong bergerak yang ditutup terpal. Warung tak pernah sepi. Pembeli terus datang bergiliran.
Depan warung ini, tertulis nama warungnya: Mie Ayam Wonogiri. ’’Karena saya asli dari Wonogiri dan resepnya juga dari sana,’’ kata Suyatno, 56, pemilik warung.
Pak No, sapaan akrabnya, sudah mulai berjualan mie ayam di Jombang sejak 1998. Awalnya, ia mengaku berjualan keliling, hingga mulai menempati emperan gedung beberapa tahun kemudian. ’’Sempat beberapa kali pindah. Mulai 2005 bertempat di simpang tiga ini,’’ jelasnya.
Seporsi mie ayam di warungnya, berisi mie basah yang telah direbus, sayur rebus dan topping ayam kecap. ’’Mie ayamnya sama, yang beda hanya resep mie sama bumbunya,’’ tambahnya.
Pak No membuat semua bagian mie ayamnya sendiri. Mulai bumbu olahan ayam kecap, hingga mie basahnya semua dibuatnya dengan racikan sendiri. Dengan itu, ia mengaku bisa menjaga rasa mie yang dijual.
’’Jadinya kan beda. Mienya juga bisa lebih banyak porsinya. Jualnya juga bisa lebih murah. Dan yang paling penting rasanya tidak boleh berubah,’’ urainya.
Rasa yang terjaga membuat pelanggannya tak berkurang. Terlebih harganya sangat terjangkau, Rp 7.500. Pembeli yang datang dijamin sudah makan enak plus kenyang.
’’Kalau mau nambah ayam, pangsit goreng atau lauk lain, ya nanti nambah harganya,’’ bebernya.
Editor : M Nasikhuddin