Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Desain Bangunan Klasik, Didirikan 1812 Silam

Rojiful Mamduh • Jumat, 6 Agustus 2021 | 15:25 WIB
Desain Bangunan Klasik, Didirikan 1812 Silam
Desain Bangunan Klasik, Didirikan 1812 Silam

MASJID Jamik Darussalam yang terletak di Desa Mojoduwur, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang diyakini sebagai salah satu masjid tertua. Masjid ini didirikan 1812 silam oleh beberapa tokoh agama yang salah satunya Mbah Imam Djahid asal Sumobito.


Konon, Mbah Imam Djahid ini dikenal sebagai satu satu orang yang membawa beselit pemecahan wilayah Kabupaten Jombang dengan Kabupaten Mojokerto, pada masa pemerintah Hindia Belanda. Tak heran, bangunan masjid terlihat desain klasik dengan cungkup model lawas. Begitu juga area dalam masjid, tampak khas model Jawa. Tepat di sebelah barat, terdapat  makam kuno yang diyakini sang pendiri masjid.


Kasun Mojoduwur Muhlisoni, menceritakan, berdasarkan cerita turun temurun dari keluarganya, masjid Jamik Darussalam didirikan 1812 silam oleh beberapa orang. Pertama adalah Mbah Imam Djahid dan kakek buyutnya. ”Didirikan Mbah Imam Djahid kakeknya Cak Nun (Emha Ainun Najib, Red) dan beberapa pegawai KUA Mojowarno, termasuk mbah saya Mat Rifai,’’ ujarnya, kemarin.


Pembangunan masjid berawal dari keinginan para pegawai kantor urusan agama (KUA) untuk mendirikan masjid dekat kantor. Akhirnya ada pegawai yang mewakafkan tanahnya untuk mendirikan masjid. ”Dulu KUA-nya di depan sana, sekitar 50 meter dari masjid,’’ tambahnya sembari menunjuk ke lokasi.


Nama Darussalam sendiri berarti keselamatan. Pendiri masjid berharap setiap umat muslim yang menunaikan ibadah, selamat dunia akhirat. Awalnya, masjid ini sepi jamaah karena di masa-masa itu belum banyak pemeluk agama Islam. Namun lambat laun, akhirnya bertambah hingga sekarang. ”Setelah 1812 akhirnya jamaah dari NU sering mengadakan acara sehingga menjadi ramai,’’ papar dia.


Masjid Jamik Darussalam pernah mengalami beberapa kali renovasi. Pertama, renovasi 1984 dan renovasi kedua 1992. ”Tahun 1984 itu yang diganti hanya lingkup dinding, karena masih menggunakan papan. Kemudian renovasi kedua pembetulan atap yang jebol, serta ada pembetulan lantai keramik. Dulu saya masih ingat lantai menggunakan ubin berwarna cokelat,’’ jelas dia.


Sejak awal, Masjid Darussalam masih mempertahankan ciir khas dengan cungkup bagian atas. Awal kali berdiri, masjid ini hanya memiliki luas sekitar 10 x 10 meter persegi. Namun setelah renovasi kedua, bangunan diperluas menjadi 20 x 17 meter. ”Sekarang lebih luas ukurannya,’’ pungkas Muhlisoni.


Editor : Rojiful Mamduh