JOMBANG - Larangan kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) tak sepenuhnya berjalan mulus. Seperti pembelajaran siswa tunagrahita kategori C1 jelas 2 di SDLB Negeri Jombang, yang tetap harus mengambil tugas ke sekolah dan butuh penjelasan dari guru.
”Tidak lama, hanya beberapa saat karena saya harus menjelaskan sedikit kepada mereka. Untuk datang ke rumah secara langsung, saya masih belum berani,” ungkap Sri Astutik, guru kelas 2 SDLB Negeri Jombang.
Siswa kelas dua tidak banyak, hanya tiga siswa. Mereka datang secara bergantian ke sekolah. Di sekolah mereka mendapatkan materi dari guru. Seperti Selasa 3/8) lalu, mereka mendapatkan materi bertema ayah.
Setelah mendapatkan materi, kemudian orang tua yang ganti diberi petunjuk untuk melanjutkan pembelajaran di rumah. ”Jadi yang belajar tidak hanya anak-anak tapi juga orang tuanya,” ungkap guru asal Desa Ngudirejo, Kecamatan Diwek ini.
Masing-masing siswa memiliki kelebihan dan kekurangan. Ada yang sudah bisa fokus dan bisa melafalkan huruf, ada juga yang artikulasinya kurang jelas. Juga ada yang sudah bisa menebali huruf.
Model pembelajaran secara langsung memang paling efektif. Jumlah siswa yang tidak banyak juga tidak menyulitkan guru untuk mematuhi protokol kesehatan. Ketiganya datang dengan tertib memakai masker. Hanya saja tidak menggunakan seragam sekolah.
Menurut Tutik, guru SLB harus menyesuaikan dengan mood siswa, karena tidak bisa dipaksakan. Jika guru meminta anak untuk menulis, tapi anak lebih suka menggambar, maka guru yang harus mengalah dan mendukung kegiatan anak selama positif dan tidak membahayakan dirinya. ”Ada yang lagi belajar tiba-tiba ambil sapu dan menyapu, justru malah saya suruh menyapu di bagian-bagian lain agar mereka senang,” katanya.
Tutik merupakan salah satu guru SLB senior yang mengajar sejak 1983. Ia mengatakan jika siswa lebih baik diajarkan untuk merawat dirinya sendiri. Misalnya belajar melepas celana sendiri, belajar ke toilet waktu akan buang air, belajar gosok gigi, menyisir rambut, pakai baju, mandi dan kegiatan sehari-hari lainnya.
Menurutnya, itu lebih penting dibandingkan memaksakan anak belajar tentang materi yang berat, seperti membaca, berhitung atau menulis. ”Tetap kita ajarkan tapi tidak bisa kita paksakan. Lebih baik kita mengajar pelan-pelan tentang berkehidupan sehari-hari,” pungkasnya.
Editor : Rojiful Mamduh