JOMBANG – Tingginya kasus kematian akibat Covid-19 di Kabupaten Jombang mendapat respons dari Direktur RSUD Jombang Pudji Umbaran. Selain menyinggung banyaknya kasus warga isolasi mandiri meninggal, kebutuhan membuat selter pasein Covid-19 disebut sudah mendesak.
”Masalahnya saya kira ada di hulu, sedangkan rumah sakit ini kan di hilirnya,” terang Pudji Umbaran, kepada Jawa Pos Radar Jombang, Jumat (16/7).
Dia menambahkan, kemampun rumah sakit menangani pasien Covid-19 juga terbatas. Baik dari ketersediaan sarana dan tenaga yang dimiliki terbatas. Melihat lonjakan kasus setiap harinya masih tinggi, serta melihat tingkat kasus kematian juga tinggi, menurutnya pemkab Jombang sudah seharusnya mulai bersiap untuk mengumpulkan kembali para pasien isoman dalam selter atau gedung karantina terpadu.
Bukan saja untuk mempermudah akses, namun juga mempermudah pengawasan. ”Karena seringkali pasien isoman dilarikan ke rumah sakit sudah dalam kondisi kritis, saturasi oksigen di bawah 80 misalnya, penanganan kita juga tentu terbatas kalau sudah kecolongan sejak awal,” tandas Pudji.
Disinggung terkait banyaknya temuan kasus warga isolasi mandiri di rumah meninggal, Pudji menengarai akibat kurangnya pengawasan terhadap pasien. Menurut Pudji, pasien isoman memang biasanya adalah pasien yang mengalami gejala ringan saja. Kendati demikian, bukan berarti pengawasannya dapat dilakukan seadanya. ”Mereka isolasi itu bukan hanya untuk meminimalisir penularan, tapi juga untuk diobati, untuk ditangani penyakitnya, sehingga pengawasan harus rutin,” lanjutnya.
Misalnya pengecekan saturasi oksigen kepada pasien isoman, seharusnya dilakukan secara berkala. ”Paling tidak tiga kali sehari ini dilakukan, karena jangan sampai kecolongan, sampai di bawah 95,” imbuhnya. Dan upaya ini, menurutnya perlu dilakukan dengan teliti dan ketat.
Terpisah, Budi Winarno Juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Jombang tak menampik persentase angka kematian pasien Covid-19 di Jombang tinggi dibandingkan dengan sejumlah kabupaten/kota lain di Provinsi Jawa Timur. ”Tingkat fatality rate kita di angka 11,9 persen, sementara fatality rate Jatim di angka 7,01 persen,” terang Budi.
Dari data yang dirilis Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Jombang, kemarin (16/7) ditemukan sebanyak 21 pasien Covid-19 meninggal dunia. Mereka tersebar di sembilan kecamatan. Di antaranya Kecamatan Jombang, Peterongan, Mojowarno, Sumobito, Perak, Kesamben, Ploso, Gudo dan Kecamatan Bareng. ”Secara keseluruhan, sejak awal pandemi angka meninggal Jombang sudah mencapai 797 orang,” beber Budi.
Editor : Rojiful Mamduh