Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Awalnya Musala Markas Gemblengan Pemuda Ansor 1965

Rojiful Mamduh • Sabtu, 3 Juli 2021 | 05:16 WIB
Awalnya Musala Markas Gemblengan Pemuda Ansor 1965
Awalnya Musala Markas Gemblengan Pemuda Ansor 1965

MASJID Bustanul Huda di Dusun Jabon, Desa Plosogeneng, Kecamatan/Kabupaten Jombang, awalnya adalah musala. Diyakini sudah ada sejak Indonesia belum merdeka. ’’Awalnya dulu musala angkringan,’’ kata Mushollin, 59, ketua takmir.


Musola angkringan itu atapnya terbuat dari daduk. Dinding dan lantainya dari bambu. Ukurannya 3X3 meter. Saat G30S PKI 1965, musala itu menjadi markas para pemuda Ansor melakukan gemblengan tenaga dalam. ’’Setelah kumpul di sini, baru keluar mencari orang-orang PKI,’’ terangnya.


Sejak 1965 itulah jumlah jamaah yang datang ke musala meningkat. Musala menjadi penuh sesak. Bahkan tidak muat menampung jamaah. ’’Akhirnya warga berinisiatif meluaskan,’’ ujar bapak tiga anak ini.


Warga kemudian membeli kayu yang semula digunakan untuk rumah warga. Lambat laun, pembangunan bisa dilakukan dan akhirnya berdiri musala yang lebih luas. Atap terbuat dari genting, dinding kayu dan alasnya gedek.


’’Pada 1982, musala dibangun oleh Pak Hariyono Sumantri menjadi bangunan permanen,’’ kata Mushollin. Luasnya menjadi 7X7 meter. Kemudian 2007, musala dibangun kembali dan diresmikan menjadi masjid, agar bisa digunakan untuk salat Jumat. Karena jumlah warga di sekitar semakin banyak.


Pada 2015, masjid direnovasi total. Desain lebih modern, megah dan gagah. Lantai dan dinding juga terbuat dari  keramik. Letak menara juga cukup tinggi. ’’Tinggi menara sekitar 17 meter,’’ tuturnya. Ia menyebut, menara sengaja dibuat tinggi untuk meletakkan pengeras suara. ’’Supaya syiar agamanya jauh lebih didengar masyarakat,’’ bebernya.


Masjid Bustanul Huda tetap mempertahankan ciri khas lama. Yakni atapnya tetap kubah dengan tiga tingkat. Ini melambangkan iman, Islam dan ihsan. ’’Luas bangunan utamanya 9X9 meter. Belum termasuk serambi,’’ terang Mushollin kembali.


Masjid Bustanul Huda berdiri di atas lahan seluas 50 X 14 meter. ’’Luas lahannya sekitar 700 meter persegi,’’ bebernya.


Masjid ini memiliki dua lantai. Namun lantai dua tidak digunakan untuk salat. Karena jamaah di lantai dua tidak bisa melihat imam atau makmum di lantai satu. Tidak ada ruang terbuka yang membuat jamaah di lantai dua bisa melihat jamaah di lantai satu. ’’Lantai dua rencana untuk kantor remaja masjid,’’ tambah dia.


Dijelaskannya, penerus Masjid Bustanul Huda sekarang sudah generasi ketiga. ’’Yang wakaf tanah namanya Bu Salbiyah,’’ jelasnya. Salbiyah punya anak Umar Zahid. Sedangkan yang sekarang aktif adalah keturunan Umar Zahid, sehingga menjadi generasi ketiga.


Mushollin bercerita, rehab total yang dilakukan sejak 2015 lalu sudah menghabiskan dana Rp 1,027 miliar. ’’Saat itu panitia hanya punya uang Rp 47 juta. Perkiraan awal kebutuhan anggaran Rp 600 juta,’’ urainya. Namun akhirnya melebihi satu miliar. ’’Alhamdulillah ada Riyoto bendahara dan Yono sekretaris yang mau ngutangi. Jadi walaupun minus, pembangunan tetap jalan,’’ ungkapnya.


Dia yakin apapun yang dibangun karena Allah, pasti akan ditolong Allah. Tujuan membuat masjid bagus menurutnya hanya satu, agar jamaah nyaman salat di masjid. ’’Buktinya, setelah masjid bagus, jamaahnya selalu penuh,’’ pungkas dia.


Editor : Rojiful Mamduh