BAGI kebanyakan masyarakat di wilayah utara Brantas, kuliner tahu bumbu sudah tak asing lagi. Warung yang menjual nasi dan lontong tahu di kompleks pasar Ploso, sudah melegenda sejak 1950-an silam.
Warung ini tak punya penanda khusus. Juga tak ada ruang khusus maupun bangunan permanen. Berlokasi di depan pertokoan Terminal Ploso, hanya menggunakan beberapa meja yang ditata di emperan toko. Sementara pembelinya, biasa duduk berjajar mengelilingi meja, atau jika sudah penuh, bisa memanfaatkan emperan toko.
Kendati demikian, warung yang hanya menyediakan menu tahu bumbu ini tak pernah sepi. Puluhan pembeli terus datang silih berganti. “Menunya ya cuma satu, tahu bumbu, bisa pakai nasi atau lontong,” terang Hermin, 60 pemilik warung.
Sejak buka 1950-an, menu di warungnya tak pernah berubah. Warung tanpa nama ini hanya menjual kuliner tahu bumbu. Hingga diteruskan Hermin di tahun 1997, ia tak mau merubah. “Sudah warisan dari mertua, menunya ya cuma itu, jualannya juga tetap di sini,” lanjutnya.
Tahu bumbu adalah makanan sederhana yang terdiri dari sambal kacang tanah, petis dan kecap yang disiram ke atas tahu. Sebelum disiram, tahu biasanya dipotong dadu dan digoreng setengah matang. Meski terlihat sederhana, menu ini selalu habis setiap hari.
Menurut beberapa pengunjung yang datang, spesial di warung ini adalah pengolahan bumbu sambalnya. “Katanya enak di petis sama kecap, resepnya memang tidak berubah dari dulu, jadi rasanya juga sama,” tambahnya. Pembeli yang datang bisa menambah toping.
Hermin, biasanya menyediakan tambahan menu berupa cecek atau olahan kulit sapi. Bisa juga telur ceplok atau telur mata sapi. “Kalau harga satu porsi Rp 7.500, tambah telur ya tambah Rp 2.500, tapi kalau tambah cecek, setiap potong cecek tambah Rp 1.500,” rincinya.
Warung buka setiap hari mulai pukul 18.00 hingga tengah malam. Jika ingin menikmati menu lengkap, sangat disarankan datang lebih awal. Sebab, menu sudah habis pukul 22.00. Pengunjung yang datang juga harus bersabar menunggu giliran pesanan.
Maklum, butuh waktu lumayan lama untuk mengolah sambal menjadi lezat. Terlebih, Hermin tak mempunyai asisten yang membantu berjualan. “Jualannya memang sendirian, tidak ada asisten, jadi ya harus sabar,” pungkas dia.
Editor : Rojiful Mamduh