Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Rancangan-Ku Bukanlah Rancangan-Mu

Rojiful Mamduh • Minggu, 30 Mei 2021 | 15:30 WIB
PENDETA GPdI House of Prayer Sawahan Jombang Petrus Harianto STh, meny
PENDETA GPdI House of Prayer Sawahan Jombang Petrus Harianto STh, meny

Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan Jombang Petrus Harianto STh, menyampaikan renungan menarik, kemarin. Terutama tentang pentingnya memahami dan menerima rencana Tuhan.


"Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan,’’ tuturnya mengutip  Yesaya 55:8.


Situasi dan kondisi di sekitar seringkali membentuk sikap hati dan pikiran kita. Bahkan kerapkali tanpa disadari turut memengaruhi iman kita kepada Tuhan. Mengapa? Karena dengan melihat, ukuran yang kita pakai adalah sudut pandang manusia.


Sehingga pancaindera kita yang berbicara. Ia mengendalikan suka cita kita, mengendalikan ketenangan kita, mengendalikan damai sejahtera kita, mengendalikan semangat dan motivasi kita. Akhirnya banyak orang menjalani hidupnya dengan letih lesu, keluh-kesah, persungutan, muram dan penuh gerutu.


Hugh Downs, produser, penulis dan pembaca berita kenamaan Amerika,  berkata,  "Orang bahagia bukanlah orang pada lingkungan tertentu, melainkan pada sikap-sikap tertentu."


Ketika menderita sakit parah, kita menyerah dan putus asa. Ketika rumah tangga goncang, hubungan suami-isteri tidak harmonis, secepat kilat kita memutuskan berpisah. Ketika ekonomi sulit dan mengalami krisis, kita pun berusaha mencari pertolongan kepada dunia atau hal-hal yang bertentangan dengan Firman Tuhan, tidak peduli jalan itu sesat.


Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, mengingatkan seharusnya kita itu "...Hidup karena percaya, bukan karena melihat..."  (2 Korintus 5:7).


Selama fokus kita kepada apa yang terlihat oleh mata, maka kita akan menjalani hari-hari dengan penuh ketakutan, kekhawatiran dan kecemasan.  Ayub berkata,  "...Yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku. Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul."  (Ayub 3:25-26).


Jika kita hidup karena percaya, maka kita akan memahami cara Tuhan bekerja. Cara Tuhan itu selalu heran dan ajaib.  ’’Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk Tuhan?"  (Kejadian 18:14a).


Semakin kita memahami cara Tuhan bekerja, semakin kita berjalan dalam iman dan memiliki penyerahan diri penuh kepada-Nya. Dengan iman, kita beroleh kemampuan ilahi untuk melihat apa yang tidak sanggup dilihat oleh mata jasmani. Hal itu akan menjadikan kita teguh dalam iman, tetap sabar dan terus bertekun menantikan-nantikan cara dan waktu Tuhan.


Bertahun-tahun orang tua saya berdoa supaya saya sebagai anak laki satu-satunya menjadi hamba Tuhan. Akhirnya Tuhan jawab dengan cara dan waktu yang tepat. Kalau sudah waktu dan kehendakNya, tidak ada yang bisa menghalangi.


Saya ada sampai saat ini sebagai hamba Tuhan, itu semua ada dalam rencana Tuhan. Doa orang tua kami yang tentunya dinaikkan dengan iman dan dengan tekun pada akhirnya didengar oleh Tuhan. Mungkin manusia berpikir dan berkata terlambat, tapi kita percaya Tuhan Yesus punya waktu dan cara yang selalu tepat.


Percayalah, Tuhan selalu punya cara untuk menolong kita, karena itu jangan batasi dengan logika kita!’’Bersabarlah menunggu, sebab Tuhan selalu tahu apa yang kita perlu. Tak perlu terburu-buru, sebab Dia penentu segala sesuatu. Tuhan Yesus memberkati,’’ pungkasnya.


Editor : Rojiful Mamduh