Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Melatih Kesabaran

Rojiful Mamduh • Minggu, 23 Mei 2021 | 19:00 WIB
Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan Jombang, Petrus Harianto STh, men
Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan Jombang, Petrus Harianto STh, men

Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan Jombang Petrus Harianto STh, menyampaikan renungan menarik, kemarin. Terutama tentang pentingnya melatih kesabaran.


’’Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota,’’ tuturnya mengutip Amsal 16:32.


Kesabaran memang penuh ujian, tapi jika anda selalu lulus, kemenangan itu akan permanen selamanya. Itulah salah satu pengertian dari kebenaran firman di atas, bahwa kalau kita mau sabar maka itu kemenangan kita.


Di zaman sekarang ini semua orang menyukai segala sesuatu yang serba instan. Semua maunya serba cepat. Dalam hal makanan saja orang lebih memilih makanan yang cepat saji  (instan) dibanding harus repot-repot memasak. Dalam hal bekerja, inginnya cepat dapat pekerjaan yang hebat, ingin cepat dapat gaji besar, ingin cepat naik jabatan dan sebagainya. Apa-apa maunya serba instan. Kalau bisa tidak perlu kerja keras, tidak perlu usaha mati-matian, tidak perlu merasakan beratnya suatu proses. Tentunya masih banyak hal lain yang jadi sulit dilakukan, contohnya budaya antri.


Tanpa disadari, dengan kebiasaan yang sudah terbentuk itu membuat banyak di antara kita yang jadinya tidak sabaran. Sungguh, tak banyak menemukan orang-orang yang punya kesabaran untuk menunggu, kesabaran untuk menjalani proses.


Punya kesabaran adalah sebuah ujian iman! Saat dihadapkan pada situasi atau keadaan yang sulit, adakah kita punya kesabaran untuk menantikan pertolongan dari Tuhan?  Ataukah kita kehilangan kesabaran, lalu berpaling dari Tuhan untuk mencari pertolongan lain? Kesabaran adalah salah satu buah Roh yang harus dimiliki orang percaya (Galatia 5:22).  Memang tidak mudah bagi kita untuk punya kesabaran:  Bersabar menghadapi suami kasar, bersabar menghadapi isteri yang super bawel, bersabar menghadapi anak-anak yang nakal.


Terlebih lagi bersabar dalam menantikan jawaban doa dari Tuhan atas pergumulan hidup, bersabar menantikan janji Tuhan digenapi dalam hidup ini. Firman Allah dari kitab Habakuk 2:3 menguatkan. "Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh."


Apa yang sudah Tuhan janjikan itu pasti akan digenapi, sekalipun menurut kita terlambat tapi Tuhan selalu punya waktu yang tepat. Alkitab dalam Ratapan 3:26, mengatakan:  Adalah baik menanti dengan diam pertolongan Tuhan.


Jadi kalau kita bisa sabar menanti pertolongan Tuhan, Firman Tuhan katakan itu sesuatu yang baik, bahkan kesabaran itu meluputkan kita dari kesalahan-kesalahan besar.


Sebagai contoh Raja Saul, karena mengalami ketakutan saat melihat tentara Filistin, tak sabar menantikan pertolongan dari Tuhan, lalu lari mencari pertolongan kepada arwah  (1 Samuel 28:4-7).  Bukankah tidak sedikit orang yang berlaku demikian?  Tidak sabar menunggu waktu Tuhan bertindak, maka akhirnya lari mencari pertolongan lain.  Padahal Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang Mahasanggup melakukan segala sesuatu di luar apa yang kita pikirkan.


Memang menanti sesuatu yang kita harapkan terkadang sangat menjenuhkan dan membutuhkan kesabaran ekstra. Oleh sebab itu kita perlu melatih diri bagaimana menjadi orang yang sabar di segala situasi.


Kalau kita masuk suatu terowongan, maka semua menjadi gelap. Tetapi itu tak berarti bahwa mataharinya hilang. Ada saatnya kita akan melihat titik terang! Waktu Tuhan adalah yang terbaik, karena itu bersabarlah menantikan Dia bekerja.


Jika Tuhan belum menjawab doa kita bukan berarti Dia menolaknya. Tuhan hanya menunda hingga tiba pada waktuNya.


Jangan putus asa ketika masalah belum juga reda, percayalah segala sesuatu pasti ada akhirnya. ’’Tetaplah berharap kepadaNya, sebab segala sesuatu pasti indah pada waktunya.


Terus semangat. Tuhan Yesus memberkati,’’ pungkasnya.


Editor : Rojiful Mamduh