PENJUAL es klasik yang satu ini makin susah ditemui. Namanya es puter. Es ini bisa ditemukan di Jl Kusuma Bangsa Jombang. Setiap malam, es puter dijual di pinggir jalan dengan rombong klasik.
Beberapa orang menyebut sebagai es Dung-Dung karena suara khas boning yang biasa dipakai penjualnya. “Kalau saya lebih suka pakai istilah es puter, karena saya pakai lonceng, bunyinya ting-ting, dan di Jawa Tengah namanya juga es puter,” terang Santoso, 32, salah satu penjual.
Ia menjelaskan, es puter yang ia jual ada di Jombang sejak 1970 silam. Ia adalah generasi kedua yang meneruskan bisnis ini. “Dulunya yang jual ayah, sejak 1975. Kemudian saya meneruskan sejak 2015,” lanjutnya.
Resep untuk es ini disebutnya tak terlalu rumit. Hanya es batu yang digiling ditambahkan dengan santan dan gula. Campuran itu, kemudian diputar di dalam panci panjang yang sekelilingnya diberikan es, hingga memadat. “Resep ini dari Jawa Tengah, karena ayah memang asli dari sana, dan resep masih dijaga sampai sekarang,” imbuhnya.
Tak hanya rasa dan resepnya yang tetap klasik, tampilan rombong dan cara penyajiannya juga masih dijaga. Santoso masih menggunakan gerobak yang dikayuh dengan sepeda. Gerobaknya pun sama dengan yang digunakan sang ayah. Begitupun gelas-gelas kecil melingkar di ujung gerobak yang jadi khas jajanan ini.
“Gelas masih sama kayak dulu, gerobak juga masih asli,” lontar warga Jombang ini. Untuk satu porsi es putar, ia biasa menyajikan di dalam gelas kaca kecil. Isiannya sederhana, hanya mutiara yang ditutup dengan es di bagian atas. Terakhir, es akan disiram dengan susu kental manis warna cokelat. “Kalau harganya cukup Rp 5.000,” pungkasnya.
Editor : Rojiful Mamduh