TUJUAN dilaksanakan ibadah puasa adalah mendapatkan predikat atau derajat sebagai orang yang bertakwa (muttaqin). Puasa sebagaimana disyariatkan - diwajibkan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya sesungguhnya dapat mengubah dan membentuk seseorang menjadi pribadi yang bertaqwa. Sebagaimana yang termaktub dalam ayat wajibnya puasa, “la‘allakum tattaqūn”, (QS. Al-Baqarah : 183). Tentu, Inilah yang menjadi prestasi gemilang sebagai seorang hamba.
Jika menelusuri ke dalam Alquran, maka takwa menurut Imam Ghazali memiliki tiga makna yakni. Pertama, al-khasyyah wa al-haibah, takut kepada Allah SWT dan adanya pengakuan tentang superioritas Allah SWT. Lalu, al-tha’ah wa al-ibadah, Bermakna taat dan beribadah, kemudian ketiga tanzih al-qalb wa al-dzunub, memiliki makna pembersihan hati dari noda dan dosa.
Takwa dapat terbentuk itu merupakan konsekwensi logis dari keimanan yang kokoh, keimanan yang selalu dipupuk dengan muraqabatullah, merasa takut terhadap murka azab Allah SWT, dan selalu berharap limpahan karunia dan maghfirah-Nya. Atau sebagaimana didefinisikan oleh mayoritas dari para ulama mengatakan bahwa takwa hendaklah Allah SWT tidak melihat seorang hamba berada dalam larangan-larangan-Nya dan tidak pula kehilangan hambanya tersebut dalam perintah-perintah-Nya.
Menurut Imam Qusyairi kata takwa dalam tulisan arab terdiri dari empat huruf, yakni huruf Ta yang bermakna Tawadlu, huruf Qof mempunyai arti qonaah, lalu huruf Wawu berarti warak dan huruf Ya berarti yakin.
Dari susunan kata tersebut maka seseorang dapat disebut telah memperoleh derajat takwa apabila memiliki empat sifat, antara lain tawadlu adalah sikap rendah hati, tidak sombong, tidak angkuh, tidak takabbur, tidak mau menonjolkan diri dan jauh dari arogansi, walaupun Allah SWT telah memberikan kelebihan padanya, kelebihan harta jadi orang kaya, kelebihan ilmu jadi orang alim, kelebihan fisik jadi orang tampan dan cantik, kelebihan kekuasaan punya pangkat, jabatan, kedudukan. Orang yang tawadhu’ menganggap bahwa semua kelebihannya adalah amanah, titipan Allah SWT yang harus dijaga dan dipertanggungjawabkan. Sifat tawadhu menumbuhkan rasa persamaan, kesamaan, menghormati, menghargai, toleransi, rasa senasib dan cinta keadilan.
Kemudian, kedua, qonaah adalah menerima apa adanya, menerima yang sedikit, rida dengan segala pemberian, karunia yang menjadi keputusan Allah SWT. Menurut Imam Al Ghazali, orang qonaah adalah orang yang merasa kaya meskipun tidak kaya, dirinya merasa cukup dengan apa yang telah diberikan, dilimpahkan, dianugerahkan Allah SWT kepadanya, ia tidak mau tergiur mati-matian mengejar sesuatu yang tidak bisa dibawa mati, ia menjadi merdeka karena rida (menerima apa adanya) segala keputusan Allah SWT.
Ketiga, wara’ adalah sikap berhati-hati, menahan diri, menjaga diri, menjaga kesucian diri yaitu mehan diri dari hal-hal yang tidak baik (haram), tetapi juga menahan diri hal-hal yang tidak jelas, tidak pantas (subhat), meninggalkan yang meragukan dan mengambil yang terpercaya. Orang yang wara’ selalu selektif dan berhati-hati terhadap sesuatu, dia berhati-hati betul dalam berucap, bersikap, bertindak, juga dalam memutuskan segala sesuatu yang terkait dengan dirinya. Karena itu peluang selamatnya menjadi lebih besar.
Keempat yakin. Imam Qusyairi menyebutkan yakin itu adalah ketetapan ilmu yang tidak berputar-putar dan tidak terombang-ambing serta tidak berubah-ubah dalam hati. Nabi SAW bersabda, “Yang sangat aku takuti terhadap umatku adalah lemahnya keyakinan mereka”. Dalam kehidupan ini seseorang harus bersikap optimis kendati perjalanan hidup tidak selamanya manis. Tidak ada satupun yang tidak bisa diraih, tetapi syaratnya jangan ragu, sebab keraguan hanya menunjukkan bahwa tekad kita belum maksimal, tak ada kebaikan dalam keraguan, yakinlah dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah yang Maha Kuasa mengabulkan hajat hambanya, dengan adanya keyakinan maka yang mustahil akan bisa menjadi kenyataan, tetapi tanpa keyakinan, maka kepastian akan menjadi sirna. Ingatlah bahwa Allah SWT itu sesuai prasangka hamba-Nya.
Proses untuk menjadi muttaqin (orang yang bertakwa) ini harus terus dilakukan dan dilatih setiap hari sepanjang hidup dengan melakukan berbagai kegiatan ibadah dan juga kebaikan. Puncak latihan tersebut adalah pada bulan suci Ramadan. Allah SWT memberikan keistimewaan selama bulan Ramadan dan memberikan imbalan pahala berlipat ganda di bulan Ramadan. Bulan Ramadan disebut juga sebagai penghulu sekalian bulan. Alquran diturunkan pada bulan ini, dan hanya pada bulan suci Ramadan saja adanya malam Lailatul Qadar.
Bahkan Allah SWT juga memberikan keutamaan bagi hamba-Nya yang berpuasa pada bulan suci Ramadan ini. Puasa dapat menjadi perisai pelindung dari api neraka, pahala bagi orang yang berpuasa itu tidak terhingga, akan mendapatkan kebahagiaan saat berbuka puasa dan bertemu dengan Allah SWT, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum dari misk atau kasturi, puasa dapat memberikan syafaat bagi orang yang menjalankannya, mendapatkan ampunan dari segala dosa, dan disediakan surga masuk melalui pintu arroyyan.
Tingkat keberhasilan seseorang menjalankan puasa selama bulan suci Ramadhan bisa diukur dari tingkat kepatuhan, ketaatan, juga ketakwaan seseorang hamba kepada Allah SWT atau sejauh mana terjadi perubahan dalam ketakwaan seseorang sebelum dan sesudah berpuasa selama bulan suci Ramadan. Seharusnya pasca menjalankan puasa ramadan ini, seseorang hamba akan mendapati perubahan yang baik pada pribadinya maupun juga kehidupan sosialnya. Untuk itu, setelah memahami tentang takwa, mengenali sifat dari takwa, selanjutnya memahami kharakteristik muttaqin (orang yang bertakwa).
Adapun karakteristik atau ciri orang bertakwa disebutkan dalam Alquran (Q.S. Al-Imran : 133-135). Dalam rangkaian ayat tersebut dijelaskan orang yang bertakwa adalah mereka yang memenuhi kriteria sebagai orang yang selalu mampu bersedekah baik dalam kondisi lapang ataupun sempit. Mampu menahan amarah. Senantiasa membukakan pintu maaf bagi orang lain. Apabila berbuat dosa segera mengingat Allah dan memohon ampun kepada-Nya. Tidak meneruskan perbuatan dosanya.
Dalam Alquran (Q.S. Al - Anbiya: 48 – 49), Allah SWT juga memberi keterangan lain tentang karakter muttaqin. Takut akan (azab) Allah, meski mereka tidak melihat Allah. Takut akan datangnya hari kiamat. Ukuran ketakwaan seseorang hamba dapat dilihat, pertama, hubungan vertikal (hablun minallah), interaksi seorang hamba (makhluk) dengan Tuhan (khalik) melalui aktivitas ibadah. Dan kedua, hubungan horizontal (hablun minannas), seseorang berinteraksi sosial dengan orang lain melalui kehidupan bermasyarakat. Semoga Allah SWT memberikan kemampuan sekaligus bimbingan atau petunjuk pada kita selama ibadah puasa di bulan suci Ramadan ini betul-betul dapat meraih derajat sebagai muttaqin (orang – orang yang bertakwa). Aamiin. (*)
Editor : Rojiful Mamduh