TUJUAN berpuasa di bulan Ramadan jelas agar bisa menjadi hamba yang muttaqin.
Ada efek positif lain dari membiasakan puasa atau mengurangi porsi makanan.
Seperti kita ketahui, tidak ada ibadah yang nilainya setinggi puasa. Ini karena tingkat kerahasiaannya sangat tinggi. Yang tahu orang itu berpuasa atau tidak hanya yang bersangkutan dan Allah SWT.
Seperti yang dijelaskan dalam hadis; ’’Sesungguhnya puasa itu suatu ibadah, yang tidak bisa dijangkau oleh panca indera manusia. Yang tahu hanya yang bersangkutan dan Tuhan. Maka jadilah puasa itu sebagai ibadah antara Tuhan dan hamba-Nya”.
Begitu rahasianya ibadah puasa sampai Allah akan memberi balasan berlipat-lipat bagi mereka yang mau melakukannya, sekalipun tidak di bulan Ramadan.
Mengapa harus puasa?
Berangkat dari perbedaan soal selera makan antara hewan dan manusia.
Pada hewan kebiasaan makan diatur oleh insting. Ini sebagai anugerah Tuhan demi kelestariannya. Bagi hewan, begitu sudah kenyang selesailah makannya. Diberi rumput terbaikpun tak akan mau.
Berbeda dengan manusia, yang selera makannya dikendalikan oleh otak.
Dengan anugerah tersebut, manusia bisa memilih dan memilah apa saja yang akan dimakannya. Dan ini bisa sangat tidak terbatas.
Manusia bisa memakan apapun yang disukainya. Kalau sudah demikian, maka sesuai dengan apa yang disabdakan Nabi; ’’Bahwa yang disebut rakus itu, apabila ia memakan apa saja yg disukainya’’.
Nabi Muhammad SAW juga memberi warning kepada kita; makan yang berlebihan (over dosis) akan berakibat negatif. Seperti yang ditegaskan dalam hadis; ’’Hati-hatilah dengan cara makan yang tidak terkendali. Karena cara seperti iku bisa merusak tubuh (obesitas), mendatangkan penyakit, dan membuat malas untuk ibadah.
Makanya, dikatakan lebih baik menjaga dari apa yang membahayakan dari pada mengobati semua penyakit.
Membatasi porsi makanan sangat dianjurkan. Semua ini demi kebaikan bagi pelakunya. Nabi SAW sendiri dalam kehidupan sehari-hari sering berlapar-lapar (melaparkan diri) dengan cara berpuasa atau menyedikitkan porsi makan.
Itu sebabnya Nabi bersabda; ’’Termasuk yang tidak disukai oleh Allah SWT adalah apabila perut penuh dengan makanan halal’’.
Di sini berlaku qiyas tauqifi; halal saja tidak diperkenankan apalagi yang haram.
Nabi menghubungkan antara makan yang tidak berlebihan dengan otak menjadi bersih. Beliau bersabda: ’’Biasakanlah berpuasa atau sedikit makan, karena itu akan membuat hati kalian menjadi bersih.’’
Di hadis lain dikatakan: ’’Bagi Allah, yang lebih utama di antara kalian adalah yang lebih banyak berpuasa (sedikit makan) dan banyak berfikir tentang kekuasaan Tuhan.’’
Mengapa hati bukan otak?
Awal aktivitas manusia diawali dari kehendak hati, baru diaplikasikan oleh otak (pikiran). Selajutnya oleh panca indera yang lain. Makanya Nabi bersabda; ’’Dalam badan kita ada segumpal darah, kalau darah itu baik maka semua raga dan panca indera akan baik, itulah hati.’’
Kalau hati seseorang bersih dari hal-hal yang tidak baik seperti iri dengki, amarah, malas, su’udzon, dan sombong, maka perilakunya akan ikut baik. Mulai dari ucapannya hingga tingkahnya.
Yang terakhir, mudah-mudahan puasa dan amal baik kita diterima oleh SWT dan kita diberi kehidupan yang penuh barokah serta dapat husnul khotimah.
Editor : Rojiful Mamduh